HarySoemarwoto’s Weblog

Pemikiran Seorang Anak Bangsa

Akhlak tehadap Makanan

Posted by harysoemarwoto on June 9, 2008

Akhlak terhadap makanan (sesuai sunnah Rasulullah Muhammad Saw.)

MediaMuslim.Info – Meja makan dan piring silih berganti dipajang di rumah para pembesar kaum dan para penguasa. Lain halnya dengan Nabi umat ini, padahal negara beserta rakyatnya di bawah kekuasaan beliau. Unta yang penuh dengan muatan tiada henti-hentinya datang kepada beliau. Emas dan perak selalu terhampar di hadapan beliau. Tahukah kita makanan dan minuman beliau? Apakah seperti hidangan para raja? Atau lebih mewah dari itu? Ataukah seperti hidangan orang-orang kaya dan bergelimang harta? atau lebih lengkap dan lebih komplit? janganlah terkejut melihat hidangan Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam yang sederhana lagi memprihatinkan. Anas bin Malik mengungkapkan kepada kita sebagai berikut: “Rasululloh tidak pernah makan siang dan makan malam dengan daging beserta roti kecuali bila menjamu para tamu.” (HR: At-Tirmidzi)

Karena sedikitnya jamuan yang tersaji dan banyaknya peserta hidangan, beliau tidak dapat makan kenyang kecuali dengan susah payah. Tidak pernah sekalipun beliau dapat makan sampai kenyang kecuali ketika menjamu para tamu. Beliau dapat kenyang bersama para tamu yang mesti beliau layani.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengungkapkan, yang artinya: “Keluarga Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah makan roti gandum sampai kenyang dua hari berturut-turut hingga beliau wafat.” (HR: Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan, yang artinya: “Keluarga Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah makan roti gandum sampai kenyang tiga hari berturut-turut semenjak tiba di kota Madinah sampai beliau wafat.” (Muttafaq ‘alaih)

Bahkan Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam pernah tidak mendapatkan sesuatu untuk dimakan. Hingga beliau tidur dalam keadaan lapar, tidak ada sesuap makanan pun yang mengganjal perut beliau. Ibnu Abbas menuturkan sebagai berikut, yang artinya: “Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam dan keluarga beliau tidur dalam keadaan lapar selama beberapa malam berturut-turut. Mereka tidak mendapatkan hidangan untuk makan malam. Sedangkan jenis makanan yang sering mereka makan adalah roti yang terbuat dari gandum.” (HR: At-Tirmidzi)

Keadaan seperti itu bukan karena beliau tidak punya atau kekurangan harta. Justru harta melimpah ruah berada dalam genggaman beliau dan harta-harta pilihan diusung ke hadapan beliau. Akan tetapi, Alloh Subhanahu wata’ala memilih keadaan yang paling benar dan sempurna bagi Nabi-Nya Subhannahu wa Ta’ala.

‘Uqbah bin Al-Harits berkata: “Pada suatu hari Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami kami shalat Ashar. Seusai shalat, beliau segera memasuki rumah, tidak lama kemudian beliau keluar kembali. Aku bertanya kepada beliau, atau ada yang bertanya kepada beliau tentang perbuatan beliau itu. Beliau menjawab, yang artinya: “Aku tadi meninggalkan sebatang emas dari harta sedekah di rumah. Aku tidak ingin emas itu berada di tanganku sampai malam nanti. Karena itulah aku segera membagikannya.” (HR: Muslim)

Kedermawanan yang menakjubkan dan pemberian yang tiada bandingannya hanya dapat dijumpai pada diri Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam.

Anas bin Malik radhiallahu anhu mengungkapkan, yang artinya: “Setiap kali Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam dimintai sesuatu karena Islam, beliau pasti memberinya. Pernah datang menemui beliau seorang laki-laki, lantas beliau memberinya seekor kambing yang digembala di antara dua gunung (kambing yang gemuk). Lelaki itu kembali menemui kaumnya seraya berseru: “Wahai kaumku, masuklah kamu ke dalam Islam! Sesungguhnya Muhammad selalu memenuhi segala permintaan seakan-akan ia tidak takut jatuh miskin.” (HR: Muslim)

Meski dengan kedermawaan dan pemberian yang demikian menakjubkan itu, namun cobalah lihat keadaan diri beliau , Anas bin Malik menuturkannya kepada kita. Ia berkata, yang artinya: “Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah makan hidangan di meja makan hingga beliau wafat, beliau juga tidak pernah makan roti yang terbuat dari gandum halus hingga beliau wafat.” (HR: Al-Bukhari)

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan, yang artinya: “Pada suatu hari, Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam datang menemuiku. Beliau bertanya: “Apakah kamu masih menyimpan makanan?” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab: “Tidak ada!” Beliau berkata: “Kalau begitu aku berpuasa.” (HR: Muslim)

Dalam sebuah riwayat yang shahih disebutkan bahwa Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam dan keluarganya pernah selama sebulan atau dua bulan hanya memakan Aswadaan, yaitu kurma dan air. (HR: Bukhari & Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu ia berkata, yang artinya: “Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam sama sekali tidak pernah mencela makanan. Beliau akan memakannya bila suka, bila tidak, beliau akan membiarkannya.” (Muttafaq ‘alaih)

Wahai saudaraku tercinta lagi mulia, bagi yang belum puas dan belum merasa cukup, akan saya bawakan secara ringkas ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah sebagai berikut: “Adapun mengenai masalah makanan dan pakaian, sebaik-baik petunjuk di dalam masalah ini adalah petunjuk Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam. Etika beliau terhadap makanan ialah memakan apa yang disajikan bila beliau menyukai-nya. Beliau tidak menolak makanan yang dihidangkan, dan tidak mencari-cari apa yang tidak tersedia. Jika disajikan roti dan daging, beliau akan memakannya. Bila dihidangkan buah-buahan, roti dan daging, beliau akan memakannya. Jika dihidangkan kurma saja atau roti saja, beliau pun memakannya juga. Bila dihidangkan dua jenis makanan, beliau tidak lantas berkata: “Aku tidak mau menyantap dua jenis makanan!” Beliau tidak pernah menolak makanan yang lezat dan manis. Dalam hadits beliau menyebutkan, yang artinya: “Akan tetapi aku berpuasa dan berbuka. Aku shalat malam dan juga tidur. Aku juga menikahi wanita dan juga memakan daging. Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka ia bukan termasuk golongan-ku.”

Alloh telah memerintahkan kita supaya memakan makanan yang baik-baik dan memerintahkan supaya banyak-banyak bersyukur kepada-Nya. Barang siapa yang mengharamkan makanan yang baik-baik, ia tentu termasuk orang yang melampaui batas. Barang siapa yang tidak bersyukur, maka ia telah menyia-nyiakan hak Alloh. Petunjuk Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam adalah petunjuk yang paling tepat dan lurus. Ada dua jenis orang yang menyimpang dari petunjuk beliau: “Kaum yang berlebih-lebihan, mereka memuaskan nafsu syahwat dan melarikan diri dari kewajiban; Kaum yang mengharamkan perkara yang baik-baik dan mengada-adakan perbuatan bid’ah, seperti bid’ah rahbaniyyah yang tidak disyariatkan Allah . Sebab, tidak ada rahbaniyyah di dalam agama Islam.”

Kemudian Syaikhul Islam melanjutkan: “Setiap yang halal pasti baik, dan setiap yang baik pasti halal. Karena Allah telah menghalalkan seluruh perkara yang baik-baik bagi kita dan mengharamkan seluruh perkara yang jelek. Dan termasuk makanan yang baik ialah yang berguna lagi lezat. Dan Allah telah mengharamkan seluruh perkara yang memudharat-kan kita serta menghalalkan seluruh perkara yang bermanfaat bagi kita.

Kemudian beliau rahimahullah melanjutkan: “Umat manusia memiliki selera yang beraneka ragam dalam hal makanan dan pakaian. Kondisi mereka berbeda-beda pada saat lapar dan kenyang. Keadaan seorang insan juga selalu berubah-ubah. Akan tetapi, amal yang terbaik adalah yang paling mendekatkan diri kepada Alloh Subhanahu wata’ala dan yang paling bermanfaat bagi pelakunya.” (Majmu’ Fatawa II / 310)

(Sumber Rujukan: Sehari Di Kediaman Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam, Asy-Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim)

Agar Anak Mengenal Makanan/Minuman Halal

Nisa’ April 1st, 2007

Oleh: Zulia Ilmawati (Psikolog, Pemerhati Anak dan Keluarga)

Allah Swt. berfirman: Hai sekalian manusia, makanlah yang halal dan baik dari apa saja yang terdapat di bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu adalah musuh kalian yang nyata. (QS al-Baqarah [2]: 168).

Makan adalah kebutuhan jasmani yang harus dipenuhi. Halal dan baik (halâl[an] thayyib[an]) merupakan syarat utama saat kita mengkonsumsi makanan. Karena itu, mengetahui makanan halal sangat penting; tidak hanya bagi orangtua, yang bertugas menyediakan makanan untuk anak-anak, tetapi juga bagi anak-anak. Mereka harus mulai dikenalkan dengan makanan halal atau haram agar lebih berhati-hati saat mengkonsumsinya. Bagaimana mengenalkan makanan halal dan haram kepada anak? Tulisan berikut akan memberikan beberapa kiatnya.
 
Beberapa Kiat

1. Mengenalkan label halal.

Usahakan untuk selalu membeli makanan yang sudah mendapatkan sertifikat halal dari mulai makanan ringan, jajanan anak-anak sampai memilih rumah makan ketika akan bersantap dengan keluarga. Label halal biasanya berbentuk lingkaran kecil di sudut atas atau bawah kemasan. Di dalamnya terdapat kata halal untuk makanan dalam kemasan dan keterangan (sertifikat halal) dalam bentuk lembaran kertas untuk restoran-restoran atau makanan yang tidak dikemas. Sertifikat halal ini dikeluarkan oleh POM MUI. Meski tidak berarti yang tidak berlabel halal adalah makanan yang haram,  mengenalkan label halal penting demi mendidik anak untuk berhati-hati sebelum membeli.
 
2. Mengenalkan kandungan makanan. Ajari anak-anak untuk mengamati setiap kandungan makanan yang tercantum dalam kemasan. Jika di dalamnya mengandung bahan yang meragukan, seperti gelatin, misalnya, pastikan bahwa yang tercantum adalah gelatin yang berasal dari sapi. Gelatin biasanya terdapat pada makanan yang lembut dan sedikit kenyal, seperti permen lunak, es krim, dan puding. Tiga jenis makanan ini termasuk  makanan favorit anak-anak. Karena itu, dengan mengenalkan komposisi kandungan, anak-anak terdidik untuk berhati-hati sebelum mengkonsumsi makanan.

3. Memperlihatkan poster barang haram.

Poster anti narkoba, misalnya, bisa kita lihat dimana-mana; di berbagai media (massa/elektronik) atau di jalan-jalan raya. Gunakan sarana itu untuk mengenalkan kepada anak makanan yang haram, di antaranya narkoba berikut berbagai bahaya yang ditimbulkan. Narkoba dapat mengganggu kesehatan, melemahkan perasaan dan merusak moral serta menghancurkan generasi. Dengan memperlihatkan poster semacam itu, anak-anak telah dididik  sedari dini untuk mewaspadai makanan/zat yang haram.

4. Menunjukkan makanan yang haram saat Berbelanja.

Sekali waktu, ajaklah anak berbelanja di pasar atau supermarket. Jika ada makanan haram yang di jual di sana, tunjukkanlah kepada mereka. Amatilah baik-baik, misalnya, perbedaan antara daging sapi dan babi; mulai dari warna, tekstur dan sebagainya yang menunjukkan perbedaan itu. Selain daging segar, kepada anak-anak juga bisa diperlihatkan beberapa makanan kaleng yang mengandung bahan babi. Selain makanan, anak juga bisa dikenalkan dengan minuman-minuman beralkohol yang haram dikonsumsi, yang biasanya dijual di supermaket besar; seperti macam-macam bir atau minuman haram lainnya. Tekankan kepada anak-anak bahwa semua itu dilarang oleh Islam dan haram untuk dikonsumsi.

5. Mengunjungi pameran produk halal.

Jika ada kesempatan, ajaklah anak-anak mengunjungi pameran produk halal. Di tempat pameran akan disajikan makanan dan minuman yang biasanya sudah mendapat sertifikat halal. Anak akan menjadi lebih tahu, ternyata tidak sedikit makanan halal yang bisa dikonsumsi. Anak juga bisa bertanya langsung kepada orang-orang yang menjaga setiap stand sekaligus meminta penjelasan tentang produk makanan yang dipamerkan. Dengan cara itu, anak-anak terbiasa memperhatikan makanan halal dan makin menyadari betapa pentingya soal ini. 

6. Membacakan ayat dan hadis.

Mengenalkan makanan halal dan haram juga bisa dilakukan dengan mengenalkan dalil-dalil tentang makanan yang bersumber dari al-Quran atau Hadis Rasulullah saw. Ajaklah anak untuk membaca, mengkaji dan kalau mungkin menghapalkan ayat-ayat dan hadis tersebut. Contohnya ayat berikut:

Diharamkan atas kalian (memakan) bangkai, darah, daging babi, daging hewan yang disembilih atas nama selain Allah; yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang kalian sempat menyembelihnya; dan (diharamkan atas kalian) binatang yang disembelih untuk berhala. (QS al-Maidah [5]: 3).

Contoh lain adalah sabda Rasulullah saw. berikut:

الْبَحْرُ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

Laut itu suci airnya dan halal bangkainya. (HR at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibn Majah dan Ahmad).

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنْ سُحْتٍ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

Tidak akan masuk surga siapa saja yang dagingnya tumbuh dari makanan  yang haram. Neraka lebih utama untuknya. (HR Ahmad).

7. Menanamkan kehalalan melalui cara mendapatkannya.

Selain kiat di atas, penting juga diajarkan kepada anak, bahwa makanan yang halal tidak hanya dilihat dari zatnya saja, tetapi juga cara memperolehnya. Makanan yang zatnya halal, tetapi  didapat dengan cara yang haram, menjadi haram juga. Misal, ayam goreng yang halal dimakan, jika didapat dengan cara mengambil bekal temannya saat makan siang di sekolah, menjadi haram. Dengan cara ini, anak juga dididik sedari dini untuk mendapatkan rezeki dengan cara yang halal selalu. Dengan begitu, bibit-bibit korupsi dan tindak kejahatan menyangkut harta lain dengan cara ini sesungguhnya sudah dilibas mulai dari akarnya.
 
8. Mengenalkan makanan halal melalui kegiatan makan bersama.

Cara lain yang cukup efektif mengenalkan makanan halal kepada anak-anak adalah saat makan bersama. Sebelum acara makan dimulai, ajaklah anak-anak mengamati makanan masing-masing. Selain dari kandungan gizinya dan manfaatnya untuk pertumbuhan anak, jelaskan juga sisi kehalalan. Tanamkan rasa syukur dengan makanan yang sudah tersedia,   sekaligus juga ajarkan tentang adab makan dan minum sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw.: membaca doa sebelum makan, menggunakan tangan kanan, tidak berbicara saat makan, tidak mencela makanan dan sebagainya.

9. Menunjukkan makanan haram melalui tivi.

Mengenalkan makanan haram kepada anak, selain bisa dilakukan secara langsung juga dapat melalui media, misalnya televisi. Di film-film biasanya terdapat adegan orang yang mabuk karena meminum minuman beralkohol. Sampaikan bahwa khamr (minuman beralkohol) haram diminum. (Lihat: QS al-Maidah [5]: 90).

10. Mengikuti perkembangan info halal.

Ada majalah khusus yang dikeluarkan POM MUI yang bisa kita dapat. Kita juga biasa mengakses langsung melalui internet. Dengan begitu, kita tidak akan tertinggal informasi tentang perkembangan makanan halal, sekaligus kita akan lebih mudah dalam mencari produk halal. Ajaklah anak-anak untuk turut memperhatikan atau membaca media itu. Akan lebih menyenangkan jika anak juga sekali waktu diajak untuk surfing di internet untuk mengetahui makanan yang halal.

Wallâhu a‘lam biash-shawâb.

KITAB ADAB MAKAN

(VERSI DRAF _ MASIH DIEDIT)  

 

Mengundang dan menghormati tetamu

 

          Sesungguhnya Allah Ta’ala telah memperelokkan pentadbiran semesta alam. Maka Allah telah mencipta langit dan bumi dan menurunkan air tawar dari gumpalan awan. Dengan itu maka tumbuhlah segala biji-bijian dan tanam-tanaman, lalu ditentukan daripada rezeki-rezeki dan makanan yang mana dengannya pula dipeliharaNyalah segala kekuatan makhluk yang hidup, dan dibantuNya mereka untuk mengerjakan ketaatan dan amalan-amalan kebajikan dengan memakan barang-barang yang baik dan halal. Kepada Allah ditujukan kesyukuran pada sepanjang waktu dan masa.

 

          Oleh kerana tujuan utama bagi orang yang mempunyai pemikiran yang waras ialah menemui Allah kelak pada hari penerimaan balasan, padahal tiada jalan untuk sampai bertemu dengan Allah melainkan dengan ilmu pengetahuan serta amalan. Hal itu pula tidak mungkin berkekalan, melainkan dengan keselamatan tubuh badan, dan tubuh badan tidak mungkin terpelihara dan selamat, melainkan dengan makanan yang dimakan sekadar yang diperlukan dari masa ke semasa. Maka dari wajah ini, sebahagian para salaf telah berkata : Sesungguhnya memakan makanan itu termasuk urusan keagamaan. Dalam hal ini juga Firman Allah Ta’ala telah mengingatkan;

 

          “ Makanlah dari makanan yang baik, dan kerjakanlah amalan-amalan yang soleh.”

                                                                   ( al-Mu’minun: 51)

 

 

          Berikut kita tunjukan suatu bimbingan kepada tugas-tugas agama dalam urusan makan yang mengenai kewajipannya, sunnat-sunatnya dan adab-adabnya.

 

Tata-tertib makan

 

          Ada tiga keterangan yang harus diperhatikan oleh seseorang yang sedang menghadapi makanan, iaitu;

 

          Pertama: Adab orang yang mahu memulakan makan.

          Kedua : Adab diwaktu makan.

          Ketiga: Hal-hal yang dituntut sesudah makan.

 

PERTAMA: ADAB ORANG YANG MAHU MEMULAKAN MAKAN.

 

(1)               Makanan itu mestilah dari yang halal dan cara memperolehinya juga harus secara halal, menurut petunjuk syariat dan wara’, tidak boleh diusahakan  dengan cara yang dilarang di dalam syariat, ataupun dengan cara menurutkan hawa nafsu ataupun dengan cara penipuan. Dan Allah Ta’ala telah pun memerintahkan kita suapa memakan makanan yang baik, yakni secara halal, sebagaimana Dia telah mengutamakan larangan makanan secara batil (haram) daripada larangan membunuh jiwa tanpa hak, iaitu untuk mengeraskan lagi larangan memakan yang haram dan membesarkan keberkatan memakan yang halal. Allah Ta’ala telah berfirman:

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan harta-harta sesama kamu dengan jalan kebatilan, melainkan dengan perniagaan secara sukarela satu sama lain dan janganlah kemu membunuh dirimu.”       

          (an-Nisa’: 29)

 

Maksud yang pertama dari makanan mestilah ia dari yang baik atau yang halal dan ini  adalah dikira sebagai kewajiban dan perkara pokok dalam agama.

 

(2)      Membasuh tangan sebab tangan ini tidak sunyi dari kotoran kerana seringkali ia digunakan untuk membuat pekerjaan yang berbagai-bagai. Oleh itu membasuh tangan adalah lebih dekat kepada kebersihan dan kesucian.

 

(3)      Bila memakan sesuatu makanan, sayugialah diniatkan memakan kerana bertaqwa kepada Allah dan kerana menguatkan badan untuk menjalani ketaatan kepada Allah Ta’ala supaya dengan yang demikian, dia boleh menjadi seorang yang taat pada mengerjakan ibadat. Untuk menjamin niatnya atas dasar ini, hendaklah jangan sampai tangannya mencapai makanan, melainkan setelah benar-benar lapar. Jadi kelaparan yang merupakan satu-satu sebab yang menjadikannya memakan makanan itu. Kemudian hendaklah ia mengangkat tangannya dari makanan itu sebelum benar-benar kenyang. Barangsiapa yang menurut petunjuk ini, niscaya ia tidak perlu lagi kepada pertolongan doktor.

 

(4)      Hendaklah ia sentiasa redha dengan makanan yang terhidang di hadapannya, yakni rezeki yang telah dikurniakan oleh Allah kepadanya.

 

(5)      Sebaik-baiknya, makanan yang terhidang itu dijamah (dimakan) oleh tangan yang banyak, walauoun dari ahli rumahtangga dan anak-pinak, sebab sebaik-baik makanan ialah yang disentuh oleh tangan yang banyak. Rasulullah s.a.w sendiri tidak pernah memakan sendirian.

 

KEDUA: ADAB DI WAKTU MAKAN:

 

(1)      Hendaklah memulakan dengan membaca Bismillah pada mula menyuap makanan, dan bila selesai makan, dia mengucapkan dengan Alhamdulillah pula. Ucapan ini lebih baik jika dibaca dengan suara tinggi untuk mengingatkan orang-orang yang makan bersama-samanya.

 

(2)              Hendaklah ia menggunakan tangan kanan.

 

(3)              Hendaklah sedaya upaya, ia memperkecilkan suapannya.

 

(4)               Hendaklah ia mengunyah makanan yang dimakan itu baik-baik dan selagi makanan itu belum di telan, janganlah pula ia mengambil yang lain. Kerana yang demikian itu dikira gelojoh.

 

(5)               Jangan sekali-kali mencela makanan yang terhidang. Rasulullah s.a.w. tidak pernah mencela sebarang makanan yang dihidangkan kepadanya, tetapi jika suka dimakannya; kalau tidak ditinggalkannya saja.

 

(6)               Hendaklah ia memakan makanan yang ada berhampiran dengannya saja, kecuali jika makanan itu merupakan buah-buahan maka bolehlah ia menghulurkan tangannya.

 

(7)               Jangan letak piring atau sebagainya di atas roti atau lain-lain makanan, melainkan jika barang-barang itu memang mahu digunakan untuk memakan.

 

(8)               Jangan mengesat tangannya dengan roti atau dengan makanan yang lain. Jangan meniup makanan yang masih panas, tetapi hendaklah ia bersabar, sehingga makanan itu sejuk dan mudah untuk dimakan.

 

(9)               Kalau memakan kurma, jangan diletakkan bijinya dengan kurma itu dalam satu bekas, ataupun dikumpulkan bijinya dalam genggaman tangan, tetapi biji yang dikeluarkan dari mulutnya itu diletakkan di belakang tapak tangannya lalu dibuang. Demikian pula caranya dibuat pada buah-buahan yang lain yang berbiji atau berkulit.

 

(10)          Janganlah dibiarkan makanan yang sudah basi bercampur dengan makanan yang baik, atau diletakkan bersam dalam satu piring, tetapi hendaklah mengasingkannya pada bekas yang lain, supaya tidak mengelirukan orang lain yang ingin memakannya.

 

(11)          Jangan terlalu banyak minum ketika makan, kecuali kalau tercekik oleh makanan itu, ataupun jika ia memang betul-betul dahaga.

 

Adapun ada orang yang minum, di antaranya lain ialah:

(1)              Hendaklah ia mengambbil tempat air atau gelas dengan tangan kanan, kemudia membaca Bismillah  bila mahu meminum.

(2)               Bila minum, jangan meneguk sekaligus tetapi meneguknya seteguk demi seteguk

(3)              Bila minum berdiri ataupun berbaring

(4)              Sebelum minum, sebaiknya diperhatikan dulu gelas atau bekas air.

(5)               Jangan bersendawa atau bernafas di dalam gelas tetapi jauhkan sedikit gelas itu dari mulut. Apabila habis saja meminum, bacalah Alhamdulillah. Tetapi jika mahu minum lagi, bacalah pula Bismillah lagi.

(6)               Bila menyampaikan gelas atau bekas air kepada orang ramai, hendaklah dimulakan dari kanan. Pernah Rasulullah s.a.w. minum susu sedangkan Abu Bakar r.a. berada di sebelah kirinya dan seorang dusun di sebelah kanannya. Sesudah minum baginda menghulurkan bekas air itu kepada orang dusun itu terlebih dulu seraya berkata: Yang kanan dulu, kemudian yang kanan darinya pula.

(7)               Sebaik-baik minum dengan tiga nafas dimulakan dengan membaca Bismillah dan mengakhirinya dengan membaca Alhamdulillah.

 

KETIGA: HAL-HAL YANG DITUNTUT SESUDAH MAKAN:

 

(1)              Hendaklah berhenti makan, sebelum merasa terlalu kenyang.

 

(2)               Membasuh tangan, kemudian membersihkan celah-celah gigi dari makanan yang terselit.

 

(3)               Hendaklah ia bersyukur kepada Allah dengan sepenuh hati terhadap makanan yang telah direzekikan, dan menganggap makanan itu sebagai nikmat dari Allah. Allah telah berfirman:

 

Makanlah yang baik-baik dari rezeki yang telah Kami kurniakan dan bersyukurlah kepada Allah atas kurniaanNya.                            (al-Baqarah: 172)

 

          Sekiranya memakan makanan yang dijamu oleh orang lain, maka hendaklah ia mendoakannya:

 

          “Ya Allah! Ya Tuhanku Perbanyakkanlah kebaikannya dan berkatilah ia dalam rezeki yang Engkau kurniakan kepadanya dan jadikanlah kami sekalian tergolong orang-orang yang mensyukuriMu.”

 

          Sekiranya berbuka puasa di tempat orang, hendaklah ia mendoakan pula:

 

          Telah berbuka di tempat kamu orang-orang yang berpuasa dan telah makan makanan yang kamu hidangkan tadi orang-orang yang baik, dan moga-moga para Malaikat akan mendoakan bagi kamu dengan cucuran rahmat Allah”.

 

          “Sekiranya diketahuilah bahwa ia termakan barang-barang yang ada syubhat, maka hendaklah ia memperbanyakkan memohon keampunan dan menunjukkan kesedihan atas ketelanjurannya itu.

          Sesudah makan, disunnnatkan pula membaca:

 

          Segala kepujian bagi Allah yang telah memberi kamu makan dan minum dan telah mencukupi kami serta melindungi kami”

 

Adab makan bersama

 

          Bila makan bersama-sama orang ramai, haruslah diperhatikan perkara-perkara yang berikut; iaitu sebanyak tujuh perkara:

(1)               Jangan mulakan makan dulu bila ada hadir bersamanya orang yang mesti didahulukan, seperti orang tua atau orang  yang lebih utama daripadanya. Tetapi jika mengambil makanan itu mengikut giliran dan sudah sampai pula gilirannya untuk mengambil, maka ketika itu janganlah ia melambat-lambatkan sehingga orang lain terpaksa menunggu lama, padahal mereka itu telah berkumpul untuk makan bersama-sama.

 

(2)               Janganlah sampai semua orang berdiam diri di waktu makan, tetapi sebaik-baiknya hendaklah berbual-bual tentang perkara-perkara yang baik.

 

(3)               Janganlah makan dengan tamak, bahkan hendaklah mengingat kawan-kawan yang makan bersama-sama dalam satu hidang. Janganlah makan lebih dari kadar yang ditetapkan baginya kerana makan lebih dar kadar itu, hukumnya haram jika tidak mendapat keredhaan kawan yang memakan bersama-sama dalam satu hidangan. Sebaik-baiknya ia melebihkan makanan itu pada kawan-kawannya. Jangan pula memakan dua butir kurma sekaligus, melainkan jika semua orang yang makan sedikit, hendaklah ia menggalakkannya supaya menambah lagi dan menimbulkan seleranya untuk makan. Jika kawan itu menolak, bolehlah dipujuk hingga tiga kali, tidak lebih dari itu, kerana sesudah itu, tentulah ia akan merasa bosan dan menganggap itu sebagai memaksanya.

Adapun bersumpah untuk memakan lagi adalah di larang. Berkata al-hasan bin Ali r.a: Makanan itu lebih ringan daripada seorang yang bersumpah untuk memjuk kawannya supaya makan lagi (Maksudnya jika tak dihabiskan pun tak mengapa, tetapi jangan bersumpah untuk menyuruh orang lain memakannya — pent).

 

(4)               Janganlah terlalu menggesa kawan untuk memakan, sehingga ketara seolah-olah ia amat memerlukan makanan itu. Jangan pula memerhatikan kelakuannya ketika sedang makan: banyakkah, sedikitkah, bahkan hendaklah ia bersikap seperti seorang yang menanggung makan kawannya. Jangan pula meninggalkan lebihan makanan di tempat makannya, sedangkan selera untuk memakannya masih ada, kerana takut orang mengatakan gelojoh, sebab yang demikian itu adalah semacam kepura-puraan. Tetapi hendaklah ia makan seperti biasa, yakni seperti ia makan seorang diri di rumah. Sebaik-baiknya melatihkan diri bersopan-santun ketika makan bersendirian di rumah, supaya nanti tidak teragak-agak lagi untuk bersikap sama bila makan dengan orang ramai. Ya kalau boleh sewaktu makan beramai-ramai itu, dikurangi sedikit dari kadar makananan biasa untuk melebihkan kawang-kawannya, apatah lagi kalau, ia mengetahui bahwa mereka itu amat memerlukan makanan itu, maka sikap yang demikian adalah paling utama sekali. Begitu juga ia makan lebih dengan niat menggalakkan kawan-kawannya memakan lebih dan menaikkan semangat mereka untuk menambah lagi, maka itu adalah lebih baik pula.

 

(5)               Tidak mengapa membasuh tangan di dalam bekas makanan itu (jika bekas itu telah bersih dari makanan — pent)

Berkata Anas: Andaikata saudaramu mengundangmu untuk makan, hendaklah engakau menerima kehormatan itu dan janganlah menolaknya. Diriwayatkan, pernah Khalifah Harun ar-Rasyid mengundang makan Abu Mu’awiyah yang buta matanya. Apabila selesai makan, Khalifah pun membasuh tangan Abu Mu’awiyah menjawab: Tidak! Khalifah berkata lagi: Yang membasuh tanganmu ialah Amirul Mu’minin (yakni dirinya sendiri). Berkata Abu Mua’awiyah: Wahai Amirul Mu’minin! Sebenarnya tuan hamba telah memuliakan ilmu pengetahuan dan meletakkanya di tempat yang tinggi, maka Allah akan meninggikan kedudukan tuan hamba dan memuliakan tuan hamba, sebagaimana tuan hamba memuliakan ilmu dan ahlinya.

Oleh itu sayugialah tuan rumah sendiri yang patut menuangkan air untuk membasuh tangan tetamu-tetamunya. Demikianlah yang dilakukan oleh Imam-imam besar Malik dan Syafi’I radhiallahuanhuma pada hari tetamu itu mula tinggal bersamanya. Mereka berkata: Janganlah engkau terperanjat pada apa yang engkau lihat daripadaku ini, sebab memberi khidmat kepada tetamu adalah suatu kewajiban.

 

(6)               Janganlah tuan rumah memerhatikan kelakuan tetamu-tetamunya ketika sedang makan, jangan mengawasinya, kelak dikhuatirinya mereka akan merasa malu, Sebaiknya bersikap pura-pura tidak nampak dan menumpukan segala perhatian pada dirinya sendiri lebih-lebih lagi jika mereka sedang sedap makan. Janganlah pula berhenti dulu tetapi hendaklah menyuap terus sedikit demi sedikit, sehingga tetamu-tetamu itu merasa puas dengan makanan yang dihidangkan. Andaikata kerana sesuatu sebab, ia tidak dapat meneruskan makan-makanan itu, maka hendaklah ia meminta izin berhenti terlebih dulu, supaya mereka tidak merasa malu dengan kelakuan mereka itu.

 

(7)               Jangan melakukan sesuatu yang boleh menjijikkan orang lain, ataupun mencelupkan tangan ke dalam bekas makanan itu. Jangan terlampau menundukkan kepala ke bekas makanan, tatkala mahu menyuap makanan itu. Jika mahu mengeluarkan sesuatu dari mulut, hendaklah memalingkan muka dari bekas makanan itu, kemudian diambil dengan tangan kiri. Jangan dicelupkan suapan yang berlemak ke dalam cuka (atau sebagainya) kerana cara begitu mungkin tidak diingini oleh orang lain. Demikian pula dengan lebihan makanan yang telah digigit, jangan dicelupkan ke dalam lauk-pauk atau cuka. Jangan pula menyebut-nyebut hal-hal yang boleh menjijikan atau memuakkan ketika sedang makan.

 

 

 

Keutamaan menjamu tetamu dan adabnya

 

          Menjamu makanan kepada tetamu-tetamu adalah seperkara yang baik dan mempunyai banyak kelebihan. Berkata al-Hasan: Setiap nafkah yang dibelanjakan oleh seseorang akan diperkirakan di kemudian hari melainkan nafkah yang dibelanjakan kepada teman dan rakan yang berupa makanan yang dihidangkan kepada mereka, maka Allah Ta’ala lebih mulia daripada mahu bertanya mengenainya.

          Berkata Ali r.a: Jika aku dapat mengumpulkan rakan-rakanku atau satu sha’ dari makanan, lebih utama lagi bagiku daripada aku memerdekakan seorang hamba sahaya.

          Berkata Ibnul Umar r.a: Antara tanda kemuliaan seseorang ialah makanannya ketika dalam pelayaran dan tidak lokek memberikannya kepada rakan-rakannya. Para sahabat dahulu kala sering berkumpul untuk majlis bacaan al-Quran al-Karim, dan mereka tidak akan berpisah melainkan sesudah menjamah sedikit jamuan, walaupun ringan.

          Ataupun adab-adabnya: satu bahagian mengenai tetamu itu sendiri dan bahagian yang lain mengenai bagaimana menghidangkan makanan kepada tetamu.

          Adapun adab untuk menjadi tetamu kepada seseorang maka bukanlah suatu perkara sunnat mendatangi seseorang pada waktu makan, agar ia dapat diterima menjadi tetamu pula, kerana mendatangi seseorang di waktu makan akan memeranjatkannya. Itu adalah di larang, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam al-Quran al-Karim:

          “Janganlah kamu mendatangi rumah-rumah Nabi, melainkan sesudah diizinkan untuk makan tanpa menanti-nanti makanan itu masak”

                                                                   (al-Ahzab: 53)

 

          Maksudnya menunggu-nunggu waktu makan atau menanti sampai makanan masak supaya mereka dapat makan bersama-sama.

          Tetapi jika orang itu memang terlalu lapar, sengaja dia mendatangi rumah setengah-setengah kawan untuk mendapat sedikit makanan, tetapi tidak pula menunggu sampai tiba waktu makan, maka hal serupa itu tidaklah menjadi salah. Malah harus sebab ada semacam pertolongan kepada seorang saudara untuk mendapat pahala memberi makanan. Demikianlah caranya para salaf selalu melakukan. Sekiranya dia sampai di rumah kawan tadi sedang kawannya tiada di rumah; jika dia yakin keikhlasan hati kawan itu dan mengetahui  bahwa kawan itu akan merasa gembira kalau dia memakan dari makanannya, maka bolehlah dia memakan tanpa izinnya. Maksud keizinan di sini ialah keredhaan kawan tadi, terutama sekali pada makanan-makanan, dan perkara ini bergantung pula pada kelapangan hatinya. Sebab banyak orang menegaskan keizinan dan kadang-kadang bersumpah, sedangakn hatinya tidak redha. Maka memakan makanan orang seperti ini makruh hukumnya. Ada yang lain pula tidak hadir di rumah tetapi memakan dari makanannya dibolehkan dan tidak makruh, kerana hati tuannya ikhlas dan redha.

          Allah telah berfirman:

 

          “Atau di rumah kawan kamu (yakni memakan di rumahnya).”

                                                                   (an-Nur: 61)

 

          Berkata al-Hasan: Yang dikatakan kawan di sini, ialah orang yang jiwa anda merasa senang kepadanya dan kalbu anda merasa tenang kepadanya.

          Muhammad bin Wasi’ dan sahabat-sahabatnya sering berkunjung ke rumah al-Hasan, kemudian makan-minum apa yang ada dalam rumah itu tanpa keizinan al-Hasan. Apabila al-Hasan pulang, beliau terserempak dengan mereka. Beliau merasa gembira seraya berkata: Ya beginilah sepatutnya kita semua.

          Diceritakan lagi, ada beberapa orang telah berkunjung ke rumah Sufyan as-Tsauri, tetapi dia tiada di rumah ketika itu. Mereka pun masuk ke dalam rumah, lalu menyediakan makanan-makanan yang ada dan mereka pun makan-minum. Tidak lama kemudian, Sufyan pun kembali dan berkata: Kamu sekalian telah mengingatkan aku kelakuan para salaf, beginilah mereka itu semua.

          Adapun adab menghidangakan makanan kepada tetamu ialah: Tiada memaksa diri untuk menghidangkan apa yang tersedia saja.

          Al-Fudhail berkata: Sebabnya orang berputus hubungan antara satu dengan yang lain, ialah bila mengundang saudaranya dia menghidangkan makanan secara memaksa diri, oleh itu saudaranya tidak suka datang lagi selepas undangan itu. Di antara cara memaksa diri ialah dengan menghidangkan semua makanan yang ada di rumah, sehingga ahli rumahtangganya tidak dapat merasa lagi. Cara begini tentulah menghampakan hati ahli rumahtangga yang menyediakan makanan itu.

          Setengah orang berkata: Kami pergi kerumah Jabir r.a lalu dihidangkan kami roti dan cuka (acaran). Berkata Jabir: Kalaulah tidak kerana aku dilarang dari memberatkan diri dalam jamuan, tentulah aku akan hidangkan bermacam-macam makanan kepada kamu.

          Adab yang lain ialah bagi si tetamu, hendaklah jangan ia mencadangkan atau memaksa sesuatu barang yang tertentu untuk menjadi santapannya, seringkali sikap serupa itu, selain memberatkan akan memarahkan pula hati orang yang menerimanya sebagai tetamu. Kiranya ia telah ditawarkan oleh tuan rumah antara dua makanan, maka hendaklah ia memilih yang lebih senang untuk disediakan. Kecuali jika tetamu itu mengetahui barang yang akan dicadangkannya itu, tidak sukar bagi tuan rumah untuk disediakan maka tiadalah makruh lagi baginya untuk mencadangkan barang itu.

          Setengah orang telah berkata: cara memakan itu ada tiga macamnya:

(1)               Makan bersama-sama para fakir-miskin, sebaik-baiknyaa kita beralah dan melebihkan mereka.

(2)               Makan bersama-sama rakan-teman yang sedarjat, sebaik-baiknya dengan cara sederhana dan dengan cara biasa.

(3)               Makan bersama-sama orang berpangkat, sebaik-baiknya menjaga adab dan sopan santun.

 

Seterusnya adab tuan rumah terhadap tetamu yang datang menziarahinya hendaklah ia menunjukkan perasaan suka dan gembira dan cuba memintanya membuat cadangan tentang hidangan mengikut seleranya. Manakala tuan rumah cuba memenuhi kehendak tetamu sekadar yang boleh. Melakukan yang demikian itu adalah paling baik pahalanya besar pula.

Akhir sekali jangan pula tuan rumah sampai bertanya: Sukakah tuan kalau saya hidangkan makanan? Sebaik-baiknya ia menghidangkan apa saja yang ada dan sudah tersedia, biarlah tetamu itu sendiri yang menentukan; kalau suka ia makan, dan kalau tak makan diangkat saja makanan itu semula.

 

Beberapa masalah yang harus diperhatikan

 

Masalah pertama: Menghidangkan makanan di atas meja dapat memudahkan cara memakan, maka tiadalah dihukumkan makruh tetapi mubah atau harus, jika tiada menunjukkan perasaan sombong atau membesarkan diri. Kalau ada orang yang mengatakan hukumnya bid’ah, maka jawabannya bukan semua perkara bid’ah itu di larang oleh agama. Adapun bid’ah yang dilarang itu, ialah jika ia bertentangan dengan sunnat yang sudah jelas atau suatu perkara yang menyalahi dasar syariat yang sudah terang dalilnya. Dalam masalah ini hanya diangkatkan hidangan itu dari atas lantai dan diletakkan keatas meja untuk memudahkan cara memakannya saja, ataupun sebagainya dari perkara-perkara yang tidak dihukumkan makruh.

 

Masalah Kedua : Makan dan minum dengan bersandar hukumnya makruh dan membahayakan bagi alat pencernaan dalam perut. Begitu pula makan dalam keadaan berbaring atau meniarap.

 

          Masalah Ketiga : Sunat memulakan makan sebelum sembahyang. Dalam sebuah Hadis: Jika telah tersedia makan malam sebelum sembahyang is’ya, maka hendaklah kamu mulakan makan terlebih dahulu. Ibnu Umar r.a kadang-kadang mendengar imam sudah memulakan bacaan dalam sembahyang, namun ia tiada segera menghentikan makan malamnya. Tetapi jika nafsu hendak makan belum ada, dan jika dilambatkan masa makan malamnya tidak pula mendatangkan mudarat bagi diri, maka yang baik sekali didahulukan sembahyang.

                            

Keterangan tentang undangan dan jamuaan

 

Ketahuilah, bahawa keutamaan memberi jamuan itu nyata sekali seperti sabda Rasulullah s.a.w    

 

“Barangsiapa beriman dengan Allah dan hari akhirat, aka hendaklah ia memuliakan tamunya.”

 

Dalam sebuah atsar ada yang berkata: Adalah sia-sia orang yang tiada menghormati tetamu.

 

Rasulullah s.a.w pernah ditanya: Apa itu Iman? Baginda bersabda: Memberi orang makan dan menyebarkan salam. Dalam sebuah Hadis lain, baginda bersabda mengenai membayar denda dan memperoleh darjat ketinggian, katanya: Memberi orang makan dan bersembahyang di malam hari sedang orang-orang masih tidur.

Tentang undangan pula, hendaklah orang yang mengundang itu memilih orang-orang yang kukuh taqwanya kepada Allah dan meninggalkan orang-orang yang fasik. Rasulullah s.a.w. bersabda: Berilah makan kepada orang-orang yang berbakti kepada Tuhan. Dalam suatu atsar pula: Jangan makan melainkan dari makanan orang yang berbakti, dan jangan biarkan orang yang memakan makananmu pula, melainkan orang yang berbakti juga.

Jangan sampai mengundang orang-orang yang kaya saja, bahkan hendaklah diundang sama orang-orang fakir dan miskin. Rasulullah s.a.w. bersabda:

 

“Seburuk-buruk makanan, ialah makan walimah yang diundang orang-orang kaya saja dan tinggalkan orang-orang miskin pula”

 

Bila membuat sesuatu undangan jangan sampai meninggalkan kaum keluarga dan famili, sebab meninggalkan mereka dari diundang akan menjengkelkan dan memutus tali silaturrahim. Begitu pula, hendaklah ia menjaga ketertiban dalam masa menghundang sahabat-sahabat dan kenalan-kenalannya, kerana mengutamakan sebahagiannya akan menjengkelkan yang lain. Hendaklah jangan meniatkan untuk berbangga-bangga atau bermegah-megah diri bila melakukan undangan itu, tetapi haruslah ia berniat untuk merapatkan lagi perhubungan hati antara satu kawan dengan yang lain. Hendaklah ia sematkan perasaan gembiran dalam hati tiap-tiap seorang dari kaum Mu’minin. Hendaklah jangan mengundang orang yang memang sukar baginya untuk menerima undangan itu ataupun orang yang kehadirannya akan mengkocar-kacirkan majlis, dan merosakkan ketenangan tetamu-tetamu yang lain dalam majlis. Akhir sekali, hendaklah jangan mengundang melainkan orang yang ia tahu akan menerima undangannya saja.

 

Tentang menjawab atau menerima undangan hukumnya adalah sunnat muakkadah, yakni sunnat yang dituntut oleh agama. Ada pula yang mengatakan, hukumnya wajib dalam beberapa tempat. Menerima undangan itu ada lima adab, sila perhatikan berikut:

(1)               Jangan dibedakan antara orang kaya dengan orang miskin bila menerima sesuatu undangan. Jika melakukan yang demikian, itulah yang dikatakan takabbur yang yang dilarang.

(2)               Jangan sekali-sekali menolak undangan si miskin kerana kemiskinannya atau kerana kedudukanya yang rendah. Bahkan jauh perjalanan yang biasanya boleh ditanggung, tidak patut dijadikan sebab untuk menolak undangan orang.

(3)              Hendaklah jangan ditolak sesuatu undangan hanya semata-mata kerana ia berpuasa, maka sebaliknya terimalah undangan itu. berbuka itu akan menyebabkan saudaranya merasa gembira, maka hendaklah ia berbuka. Dalam berbuka itu, hendaklah ia berniat untuk menimbulkan perasaan gembira dalam hati saudaranya, maka pahalanya samalah seperti ia berpuasa malah lebih lagi. Ini kalau pada puasa tathawwu’ (sukarela). Kalau puasanya wajib (kerana qadha’ atau sebagainya) dan dia tidak boleh berbuka, maka hendaklah diberikan alasan-alasannya dengan baik.

 

Telah berkata Ibnul Abbas r.a: Termasuk perkara yang paling utama sekali memuliakan kawan-kawan dengan berbuka puasa, kerana berbuka puasa yang bercampur dengan niat ini adalah seumpama ibadat dan suatu kelakuan yang terpuji. Jadi pahalanya besar sekali melebihi pahala puasa. Sekalipun kiranya orang yang diundang itu tiada berbuka, tetapi undangannya itu tetap dikira baik, kerana ia telah mengumpulkan orang dalam suatu majlis yang diiringi dengan cakap-cakap yang baik.

(4)               Hendaklah ia menolak undangan, di mana makanan yang dihidangkan itu dari barang yang ada syubhat ataupun jika dalam majlis undangan itu diadakan berbagai-bagai kemungkaran,* ataupun orang yang mengundang itu bersifat zalim atau fasik, atau suka bermegah dan membesar diri.

_________________________

*           Imam Ghazali memasukkan dalam kemungkaran membentang hamparan sutera, menggantung gambar-gambar di tembok, mendengar seruling. Pada pendapat saya, perkara mungkar yang dilarang untuk dihadirinya dan yang mesti ingkarinya ialah perkara yang telah disepakati dan dipersetujui oleh para alim-ulama, manakala yang belum ditentukan oleh para fuqaha tentang pengharamannya, maka ia masih belum boleh dikira mungkar dan tidaklah orang yang membuatnya dikira fasik. Mazhab Hanafi telah mengharuskan duduk   di atas hamparan sutera, manakal Mazhab Maliki pula membolehkan menggantung gambar di tembok. Mengenai mendengar seruling, Ibnul Hazm sendiri bersama-sama pengikut Imam-imam yang termasyhur tidak mengatakan larangan. Bahkan telah disusun beberapa buku yang terkenal mengenai hal ini. Bagaimana boleh dikatakan ianya sebahagian dari kemungkaran? Saya berpendapat yang dianggap mungkar itu ialah sesuatu yang telah disepakati oleh orang ramai. Ya, untuk bersikap wara’ dan memelihara diri serta meninggalkan yang meragukan kepada yang tidak meragukan adalah seperkara yang lain yang dimaksudkan untuk menghindari kesyubhatan – Jamaludin al-Qasimi.

 

 

(5)               Janganlah hendaknya bila menerima undangan itu, dia meniatkan untuk memenuhi syahwat perutnya. Dengan cara itu, dia telah menjadikan memakan makanan undangan itu sebagai urusan keduniaan. Bahkan yang sewajarnya ia memperbaiki niatnya dengan menganggap itu sebagai suatu urusan dari urusan-urusan keakhiratan; iaitu dengan niat menuruti jejak-langkah Rasulullah s.a.w dan memuliakan seorang Mu’min serta menziarahinya, agar ia termasuk golongan hamba-hamba Allah yang kasih-mengasihi kerana Allah Ta’ala. Selain itu, hendaklah dia meniatkan untuk memelihara hati saudaranya, supaya tidak timbul darinya hal-hal yang buruk kiranya dia menolok undangan itu. Ataupun untuk menahan lidah saudaranya dari menuduh perkara yang bukan-bukan, seperti menganggapnya sombong, atau kurang ajar, ataupun kerana hendak menghina seorang Muslim yang lain dan sebagainya.

 

Berkata setengah para salaf: Saya suka sekali, agar semua perbuatanku itu diiringi dengan niat yang baik, sehinggakan pada makan dan minum sekalipun. Ketahuilah perkara-perkara yang mubah (harus) boleh dikirakan ke dalam perkara-perkara kebajikan yang diberi pahala dengan niat yang baik.

 

Bagi orang yang hadir dalam setiap undangan hendaklah memperhatikan pula adab-adab berikut:

 

(1)               Bila masuk ke dalam rumah, jangan memilih tempat-tempat yang ditetapkan bagi orang-orang berpangkat; iaitu di tempat-tempat yang terdepan, malah hendaklah ia merendah diri duduk di tempat-tempat biasa saja.

(2)               Jangan tinggal terlalu lama di tempat undangan dan jangan pula terlalu segera hendak pulang, sehingga tuan rumah menjadi tergesa -gesa menyediakan makanan untuknya, kalau makanan itu belum tersedia. Ini dengan syarat kalau tempat tidak begitu penuh sesak dengan tetamu.

(3)               Bila tuan rumah menunjukkan sesuatu tempat untuk ia duduk, jangan pula menolak, barangkali tuan rumah itu telah menentukan tempat bagi tiap-tiap seorang dari tetamu-tetanunya. Jadi kiranya ia menolak juga, akan berubahlah peraturan-peraturan yang sudah ditentukan oleh tuan rumah tadi.

(4)               Jangan duduk di tempat yang berhadapan dengan pintu bilik yang dikhaskan untuk kaum wanita, ataupun di tempat yang bertabir.

(5)               Jangan terlalu mengamati tempat dari mana hidangan makanan dikeluarkan kerana yang demikian itu menandakan dirinya sebagai seorang perakus.

(6)               Hendaklah mengutamakan memberi salam dan bertanya khabar pada orang-orang yang duduk berhampiran dengannya.

(7)               Apabila seseorang tamu datang untuk bermalam, maka hendaklah tuan rumah menunjukkan arah kiblat bilik air atau tandas dan tempat mengambil air sembahyang.

(8)               Tuan rumah hendaklah membasuh tangan terlebih dulu sebelum tetamu-tetamunya dan sebelum makan, kerana dia telah mengundang mereka untuk menerima penghormatanny. Hendaknya janganlah ia makan, melainkan setelah selesai semua tetamu-tetamu makan.

(9)               Tetamu pula, bila melihat sesuatu perkara mungkar di rumah itu, hendaklah ia mengubahnya jika berdaya. Kalau tidak cukuplah ia memberi nasihat saja, kemudian meninggalkan tempat itu.

Untuk orang yang menyediakan makanan undangan pula, ada lima adabnya:

(1)               Menyegerakan hidangan makanan, kerana yang demikian itu dari perkara yang memuliakan tetamu. Apabila telah hadir kebanyakan dari tetamu-tetamu sedang ada juga yang masih belum sampai atau tak datang, seorang dua saja, padahal masa yang ditentukan telah lepas, maka orang-orang yang telah hadir itu lebih berhak untuk disegerakan daripada menunggu orang-orang yang lewat itu. Dalam maksud ini, Allah telah berfirman di dalam al-Quran:

 

 

“Sesudah sampaikah kepadamu cerita tetamu Ibrahim yang dimuliakan.”

          (adz-Dzariat: 24)

 

Maksudnya mereka itu telah dimuliakan dengan mempercepatkan hidangan kepada mereka. Hal ini telah ditunjukkan pula oleh firmanNya yang lain, iaitu:

 

“Tidak berapa lama, maka dihidangkan kepada mereka itu dengan daging anak lembu yang dibakar.”                                 (Hud: 69)

 

Juga dibuktikan dengan firmanNya yang lain lagi:

 

“Kemudian cepat-cepatlah dia pergi kepada keluarganya, lalu membawa daging anak lembu yang gemuk.”                    (adz-Dzariat: 26)

 

Berkata Hatim al-Asham: Tergesa-gesa mengerjakan sesuatu itu dari perbuatan syaitan, melainkan pada lima perkara: Maka ia dari perjalanan Rasulullah s.a.w iaitu: (1) Menyegerakan hidangan kepada tetamu. (2) Menyelenggarakan mayat. (3) Mengahwinkan perawan dan teruna. (4) Membayar hutang dan (5) Bertaubat dari dosa.

 

(2)      Menjaga pentertiban hidangan, bermula dengan buah-buahan terlebih dahulu kalau sudah tersedia, sebab buah-buahan itu lebih cocok jika didahulukan menurut ilmu kedoktoran, kerana ia lekas hancur, dan sesuai sekali diletaknya dibahagian bawah dari perut. Di dalam al-Quran ada peringatan untuk didahulukan buah-buahan; iaitu firman Allah Ta’ala :

 

Dan buah-buahan menurut yang mereka pilih.”          (al-Waqi’ah: 20)

 

Kemudian baru Allah mengikutinya dengan firmanNya;

 

          “ Dan daging burung menurut yang mereka inginkan”

 

Sesudah buah-buahan, dihidangkan pula daging dengan roti. Kalau ditambah pula selepas itu dengan manisan-manisan, maka telah sempurnalah hidangan itu berupa hidangan yang baik. Tetapi yang menentukan hasilnya penghormatan dengan terhidangnya daging, ialah firman Allah Ta’ala pada menceritakan mengenai tetamu Nabi Ibrahim, ketika disediakan untuk tetamu daging anak lembu yang dibakar, sehingga sempurna masaknya, bukan setengah masak. Dalil al-quran ini menunjukkan salah satu makna penghormatan terhadap tetamu. Iaitu dengan menghidangkan makanan yang berupa daging.

 

Berkata Abu Sulaiman ad-Darani r.a.: Memakan makanan yang baik akan menyebabkankeredhaan Allah Ta’ala dan makanan baik itu akan lebih sempurna bila diminumkan air sejuk. Kemudian tangan pula dibasuh dengan air panas-panas dingin.

Berkata al’Ma’mun: Minum air dengan air batu (es) akan menimbulkan kesyukuran yang khalis (tulen).

Setengah orang berkata pula, makan manisan selepas makan lebih baik dari memakan berbagai-bagai makanan yang lain. Duduk menetap pada satu hidangan lebih baik dari menambah dua jenis hidangan yang lain, dan menghiasi hidangan dengan sayur-sayuran adalah amat diperlukan sekali.

 

(3)      Di antara bermacam-macam makanan yang terhidang itu hendaklah ia memilih yang paling terenak sekali dulu, sehingga para tetamu yang hadir itu dapat memakan sengan sepuas-puasnya, dan tidak mahu makanan yang lain lagi sesudah itu. Tetapi ad setengah-setengh orang yang mewah suka menghidangkan makanan yang ringan-ringan (kurang penting) terlebih dulu, supaya selera orang yang makan akan kembali segar semula apabila dihidangkan pula makanan-makanan yang terenak sesudah itu. Cara begini adalah khilaful-aula (menyalahi cara yang terbaik), kerana yang demikian itu adalah semacam helah untuk makan banyak. Sebaik-baiknya ialah menghidangkan makanan-makanan itu semuanya sekaligus ataupun diberitahu terlebih dulu jenis-jenis makanan yang akan dihidangkan.

 

(4)               Janganlah sampai di angkat makanan-makanan yang di hidangkang itu, selagi orang-orang masih belum selesai memakannya. Tetapi hendaklah ditunggu sehingga semua orang berhenti makan. Barangkali ada setengah-setengah orang lebih suka pada satu-satu jenis makanan dari yang lain, ataupun seleranya masih ada untuk memakan makanan-makanan itu, dan tentulah seleranya akan terencat bila tuan rumah mula berkemas-kemas hendak mengangkat hidangan-hidangn yang selebih itu.

 

(5)               Hendaklah makanan yang dihidangkan itu sekadar mencukupi semua tetamu yang diundang, sebab kurang dari kadar yang mencukupi adalah menunjukkan kurang kesopanan dan kalu lebih pula dikira sebagai hendakl menunjuk-nunjuk atau riya’.

 

Ibnu Ma’ud r.a telah berkata: Kita telah dilarang untuk menerima undangan orang yang suka bermegah-megah dengan hidangannya. Setengah-setengah para sahabat pula tidak ingin memakan hidangan orang yang suka bermegah-megah dengan hidangannya.

 

Selanjutnya hendaklah tuan rumah lebih dulu mengenepikan bahagian ahli rumah dari makanan tersebut, supaya mereka tiada ternanti-nanti lebihan yang mungkin dikembalikan oleh tetamu-tetamu kepada mereka. Sebab makanan undangan seringkali kehabisan tidak ada yang tertinggal lagi, maka akan kecewalah ahli rumah kelak, dan mungkin pula terkeluar cacian dari lidah-lidah mereka terhadap tetamu.

 

Seterusnya bagi mengiring tetatmu-tetamu kembali dari undangan, ada tiga pula adabnya, iaitu:

 

(1)               Hendaklah ia mengiringi tetamunya hingga ke pintu rumah, dan yang demikian itu adalah sunnat dan ini juga terkira cara menghormati tetamu. Untuk menyempurnakan penghormatannya lagi ialah memaniskan wajah dan bertutur yang baik pada masa menjemput masuk dan mengiring keluar, dan juga ketika duduk bersama menghadapi meja makan.

 

(2)               Tetamu pula, ketika tiba waktu pulang, hendaklah melahirkan sikap baik diri dan jangan menunjukkan sikap jengkel, walaupun berlaku sesuatu yang kurang disenangi kerana yang demikian itu adalah sifat budi pekerti yang baik dan merendah diri.

 

(3)               Janganlah hendaknya dia meninggalkan tempat undangan itu, melainkan dengan redha tuan rumah dan keizinannya. Di samping itu hendaklah ia melayan hati tuan rumah dalam masa ia berada di situ. Sekiranya ia tinggal di situ sebagai tetamu, maka janganlah sampai lebih dari tiga hari, kerana dikhuatiri tuan rumah akan merasa bosan, dan akhirnya ia terpaksa mencari helah untuk menghalaunya. Tetapi jika tuan rumah menggesanya supaya tetap tinggal di rumahnya dengan hati yang penuh ikhlas, maka bolehlah ia tinggal lebih lama dari itu. Adalh sunnat bagi tuan rumah untuk menyediakan tempat tidur yang khas bagi tetamu yang tinggal serumah dengannya.

 

 

Adab-adab yang lain.

 

          Pertama: Diriwayatkan dari Ibrahim an-Nakha’I yang dikatakan pernah berkata: Makan di pasar adalah suatu penghinaan. Tetapi ada yang meriwayatkan bahwa setangah para salaf ada melakukannya. Letak perbedaan antara dua pendapat ini bergantung kepada adat kebiasaan negeri dan peribadi orang itu sendiri. Barangsiapa yang memandang perkara itu tidak layak bagi dirinya atau keadaan negerinya, maka yang demikian itu dikira sebagai kerakusan atau kurang sopan. Tetapi jika keadaan negerinya menganggap itu sebagai perkara biasa dan bukan suatu keaiban maka tidak mengapalah dia melakukan perkara itu.

          Kedua: Berkata setengah para doktor: Janganlah mengahwini wanita, melainkan yang gadis di antara mereka itu. Jangan makan daging, melainkan yang baru. Jangan makan benda yang dimasak, melainkan yang sudah sempurna masaknya. Jangan makan ubat, melainkan  kalau ada penyakit. Jangan makan buah-buahan, melainkan yang sudah matang. Jangan menyuap makanan, melainkan yang anda boleh mengunyahnya dan janganlah meminum air di atas makanan. Janganlah menahan buang air kecil atau besar. Apabila selesai makan tengah hari, hendaklah anda tidur sebentar. Apabila selesai makan malam, hendaklah anda berjalan sebelum tidur, walaupun seratus langkah saja.

          Ketiga: Adalah sunnat kiranya anda mengirim makanan ke rumah orang yang ada kematian. Apabila tiba berita kematian Ja’far bin Abu Talib, bersabda Rasulullah s.a.w.:

 

          “Sesungguhnya keluarga Ja’far sedang sibuk menguruskan jenazah (maksudnya Ja’far) dan tidak ada masa untuk memasak makanan, maka bawakanlah makanan untuk mereka.”

 

          Perkara mengirimkan makanan ke rumah orang mati adalah sunnat hukumnya, kemudian jika makanan itu dihidangkan kepada ramai harus mereka memakannya.

          Keempat: Tidak boleh menghadiri makanan orang yang zalim, tetapi jika dipaksa makan, makanlah sedikit saja.

 

Penutup perbahasan.

 

          Diceritakan, ada setengah orang tidak suka menerima undangan dengan hujah bahwa menunggu makanan dalam undangan itu adalah suatu kehinaan. Yang lain pula berkata: Kiranya aku meletakkan tanganku ke dalam tempat makan orang lain, maka telah terhinalah tengkukku (yakni aku telah menghinakan diriku). Pendapat-pendapat serupa ini telah ditolak oleh setengah para ulama yang mengatakan, bahwa pendapat itu adalah berlawanan dengan sunnat.

          Berkata Imam Ghazali: Maksudnya bukan begitu, tetapi yang dikatakan kehinaan itu, sekiranya si pengundang tidak begitu gembira, jika undangannya diterima oleh yang diundang. Ataupun dianggapnya itu sebagai suatu budi atau sebagai kewajiban yang mesti terhadap orang yang diundang itu. Rasulullah s.a.w. suka juga menghadiri undangan kerana mengetahui bahwa pengundangnya ingin membuat sesuatu budi terhadap baginda, sementara baginda melihat yang demikian itu sebagai kemuliaan dan penghormatan di dunia dan akhirat.

          Perkara di atas sebenarnya berbeda dengan berbedanya keredhaan. Jika orang yang diundang itu yakin bahwa pengundangnya akan merasa berat untuk menghidangkan makanan, ataupun dirasakan yang demikian itu sengaja untuk tujuan bermegah-megahan, ataupun sikapnya sebagai seorang yang terpaksa, maka ketika itu tidak sunnat lagi baginya untuk menerima undangan orang itu. Yang sebaiknya ia mengemukakan keuzuran atau sebab-sebab yang dapat diterima.

          Oleh kerana itu kebanyakan para ahli sufi berpesan, katanya: Janganlah anda menerima undangan, melainkan jika anda yakin bahwa pengundang anda itu mengetahui yang anda memakan rezekimu yang ditentukan oleh Allah dari hidangannya dan bahwasanya rezeki itu diserahkan kepadanya sebagai titipan atau amanat yang sebenarnya adalah milik anda yang berada dalam genggamannya, seraya ia merasa berterima kasih kerana anda telah menerima semula titipan itu daripadanya. Jadi jika orang yang diundang itu, yakin, bahwa tiada budi dalam menerima undangan itu, maka tiada patut dia menolaknya tanpa keuzuran.

 

Mengenalkan Adab Makan dan Minum

 

Ditulis oleh didinkaem   

Saturday, 17 March 2007

Oleh : Sasa Esa Agustiana  

Untuk pertumbuhan, setiap hari sang buah hati memerlukan asupan makanan dan minuman yang halal dan bergizi seimbang. Pada masa bayi, anak selalu disuapi oleh orang tuanya, namun secara bertahap sejak usia 1 tahun ia mulai memiliki ingatan bahwa ada kegiatan makan dan minum akan dialaminya pada jam tertentu dan tempat tertentu, makan dilakukan hari ini, kemarin, dan esok. Anak juga telah mengenal beragam jenis makanan, bahkan kadang mulai rewel menolak jenis makanan tertentu, pendek kata ia telah mulai mengerti ada kegiatan rutin yang dinamakan makan dan minum setiap hari.

 

Kemudian bagi anak usia 2 tahun, Menurut Ronald E. Kleinman , M.D., Kepala bagian Pencernaan dan Gizi Anak di RS Umum Massachusetts, Boston, Amerika, usia 2 tahun merupakan fase awal kemandirian, ia dapat memutuskan apa yang ingin dimakannya.

Perkembangan motorik halus anak usia 3-4 tahun misalkan dapat memegang alat makan sendiri dengan cara menggengam, sedangkan usia 5-6 tahun misalkan dapat mengoles selai di atas roti.

Dalam setiap acara makan dan minum itu, jadikanlah kesempatan bagi orang tua memberikan latihan proses belajar mandiri, makan dan minum sendiri, bagi sang anak sesuai tahapan usia dan kemampuannya, serta mengenalkan sejumlah adab/aturan/tata cara makan dan minum sesuai dengan aturan yang Islami.

Sejumlah aturan/adab makan minum yang dimaksud adalah sebagai berikut:

Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan

Ibnu Majah dan Al Baihaqi meriwayatkan dari Anas r.a. bahwa ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa menginginginkan agar Allah memperbanyak kebaikan rumahnya, maka hendaklah ia berwudhu ketika santapannya datang dan diangkat.”

Membaca Basmalah sebelum makan dan Hamdalah sesudahnya

Abu Daud dan Tirmidzi meriwayatkan dari Aisyah r.a., Ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu makan, hendaklah ia menyebut nama Allah Taala (Basmalah). Dan apabila ia lupa menyebut nama Allah Taala pada awalnya, maka hendaklah ia mengucapkan, Bismillaahi awwalahu wa aakhirahu (Dengan menyebut nama Allah pada awalnya dan akhirnya).”

Meneguk minuman tidak sekaligus

Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kalian minum dengan sekali teguk seperti minumnya unta, tetapi minumlah dua atau tiga kali teguk. Dan bacalah Basmalah jika kalian minum, serta bacalah Hamdalah jika kalian selesai minum.”

Tidak mencela makanan yang disajikan kepadanya.

Asy-Syaikhani meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa ia berkata: “Rasulullah saw. sama sekali tidak pernah mencela suatu makanan pun. Apabila beliau berselera terhadap makanan itu, maka beliau memakannya, dan jika beliau tidak menyukainya, maka beliau meninggalkannya.”

Makan dengan tangan kanan dan makanan yang dekat

Muslim meriwayatkan dari Umar bin Abu Salamah r.a. Ia mengatakan: “Pernah aku menjadi seorang budak di bawah pengawasan Rasulullah saw. Ketika (makan), tanganku bergerak di tempat makanan, Rasulullah saw. menegurku, “Hai anak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang dekat denganmu.”

Larangan meniup minuman

At-Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa: Nabi saw. telah melarang bernafas di dalam bejana atau meniup air di dalamnya.” Meniup dan bernafas ketika minum dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan.

Makan dengan posisi tegak

Muslim meriwayatkan dari Anas r.a bahwa ia berkata: “Aku melihat Rasulullah saw. duduk tegak ketika memakan buah kurma.”

Dianjurkan Berbincang-bincang ketika makan

Muslim meriwayatkan dari Jabir r.a. bahwa Nabi saw. bertanya kepada keluarganya tentang lauk pauk. Mereka menjawab, “Kita tidak punya sesuatu selain cuka.” Beliau memintanya dan memakannya sedikit, seraya bersabda, “Ya, lauk pauk adalah cuka. Ya, lauk-pauk adalah cuka.”

Dianjurkan duduk ketika minum dan makan

Muslim meriwayatkan dari Anas r.a. dari Nabi saw.: “Bahwa ia melarang seseorang untuk minum sambil berdiri. Qatadah berkata, “Kemudian kami bertanya kepada Anas tentang makan. Ia menjawab bahwa itu lebih buruk.”

Jangan kekenyangan

Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan lainnya meriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda: “Tidak ada suatu tempat hunian anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap saja, sekedar dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika terpaksa ia harus berbuat, maka hendaknya sepertiga diisi untuk makanannya dan sepertiga didiisi untuk minumannya, serta sepertiga lagi diisi untuk nafasnya.”

Demikianlah beberapa adab/aturan tentang makan dan minum bagi seorang muslim, semakin dini buah hati kita mengetahuinya, maka ia dapat dengan mudah mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Semoga apa yang dimakan buah hati selalu sesuai dengan doa (doa sebelum makan) sebagai berikut, “Ya Allah berkahilah kami dalam rizki yang telah Engkau limpahkan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa neraka.” Serta doa (sesudah makan) “Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum, serta menjadikan kami Muslim.” (H.R. Abu Daud). Aamiin.

 

Makan Sambil Berdiri

 

Ditulis oleh Administrator   

Thursday, 04 January 2007

HalalGuide. Standing party adalah salah satu tradisi barat yang juga berkembang pada masyarakat Indonesia. Tradisi ini identik dengan ideologi barat yang cenderung hedonis (menghalalkan cara). Bagi umat Islam tentu memiliki tradisi tersendiri yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Resepsi pernikahan atau resepsi lainnya dalam Islam biasa disebut dengan walimah. Walimah yang Islami adalah walimah yang menghindari segala sesuatu yang diharamkan Islam, seperti makan atau minum dari yang haram, mempertontonkan pengantin wanita di muka umum dll. Salah satu etika makan dalam Islam, makan dilakukan sambil duduk, memakai tangan kanan dan didahului do’a atau ucapan basmalah. Rasulullah SAW bersabda:

 
 
 

 

 

Makan dan Minumlah Tapi Jangan Berlebihan

 

Ditulis oleh rizki   

Thursday, 28 September 2006

Allah SWT berfirman, “Hai anak Adam, pakailah pakaian kalian yang indah di setiap (memasuki masjid). Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al-A’raf:31) Ibnu Abbas berkata,”Di dalam ayat ini Allah telah menghalalkan makan dan minum selama tidak berlebihan dan sombong.”.

 

Sedang makan sesuai kebutuhan, yaitu untuk menghilangkan rasa lapar dan dahaga adalah suatu hal yang menurut syariat memang dianjurkan. Sebab, yang demikian itu sebagai bentuk pemeliharaan diri dan indra.

Oleh karena itu syariat melarang seseorang berpuasa wishal (puasa yang tidak pernah buka selama berhari-hari). Sebab, hal itu bisa melemahkan tubuh, mematikan jiwa, melemahkan keinginan beribadah.

Orang yang menolak memebri dirinya sesuai dengan apa yang ditubuhkan tidak termasuk orang baik dan zuhud. Dan mengenai ukuran yang melebihi kebutuhan, maka di antara ulama ada yang mengatakan, “Yang demikian itu adalah haram”, sebagian lainnya mengatakan makruh.

Tidak makan berlebihan dan sesuai kebutuhan memiliki banyak manfaat: Diantaranya membuat tubuh lebih sehat, lebih baik, bermulut lebih bersih, tidak banyak tidur, dan lebih ringan bergerak.

Sementara banyak makan bisa menyebabkan lambung terisi penuh, salah cerna, dan dapat menimbulkan berbagai macam penyakit yang membutuhkan pengobatan lebih banyak daripada mereka yang tidak banyak makan.

Orang bijak pernah berkata, “Sebaik-baik obat adalah mengatur pola makan”. Nabi saw bersabda: “Tidaklah seorang anak Adam mengisi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Sebenarnya beberapa suap saja sudah cukup untuk menegakkan tulang rusuknya. Jika terpaksa dia harus mengisinya, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga lagi untuk bernafas (HR. Turmudzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

Para ulama berkata, “Jika saja ada Apikort mendengar ungkapan ini, maka dia benar-benar akan takjub dengan hikmah ini”. (Apikort adalah bapak kedokteran, dia telah menulis lebih dari 60 judul buku tentang kedokteran).

Konon Ar-Rasyid memiliki seorang dokter nasrani yang cukup pandai. Dia pernah berkata kepada Ali bin Husain, “Di dalam kitab kalian tidak terdapat ilmu kedokteran. Ilmu itu ada 2, ilmu agama dan ilmu tubuh”.

Ali pun berkata kepadanya “Allah telah menghimpun ilmu kedokteran hanya dalam ½ ayat dari kitab kami”.

Ia berkata, “Apakah itu?” Ali menjawab: “Allah berfirman, ‘Makan dan minumlah kalian, tapi jangan berlebih-lebihan’”

Kemudian orang nasrani itu berkata, “Rasul kalian pun tidak meninggalkan sedikit pun ilmu kedokteran?”.

Ali menjawab, “Rasulullah saw telah menghimpun ilmu kedokteran dalam ungkapan sederhana, ‘Lambung adalah gudang penyakit, dan diet adalah sumber obat. Berikanlah untuk setiap anggota tubuh sesuai dengan kebiasaannya.”

Orang nasrani itu berkata, “Kitab dan Nabi kalian tidak memberi peninggalan kepada Jalinus” (Jalinus adalah bapak Farmasi. Dia telah mendalami ilmu kedokteran dan telah merantau ke banyak negara, diantaranya Iskandaria. Dia telah menulis banyak buku baik tentang kedokteran maupun lainnya. Dia cukup terkenal sebagai ahli bedah”.

Perlu saya katakan, mengobati orang sakit dapat dilakukan dengan dua paruh: separuh obat dan separuh lainnya adalah pantangan atau diet. Jika keduanya berkumpul jadi satu, seakan orang yang sakit, telah sembuh dan sehat. Jika tidak, maka menahan diri tidak banyak makan adalah lebih baik baginya. Karena, obat tidak akan bermanfaat tanpa pantangan. Sebaliknya pantangan akan lebih bermanfaat meski tanpa mengonsumsi obat.

Rasulullah pernah bersabda, “Sumber asal setiap obat adalah pantangan (diet)” Ini berarti –wallahu ‘alam- bahwa dengan pantangan, obat tidak terlalu dibutuhkan. Oleh karena itu, sebagian besar pengobatan yang dilakukan orang-orang India adalah “berpantang”. Dimana orang sakit dilarang minum, makan, dan berbicara selama beberapa hari, sehingga dia sembuh dan sehat.

Allah Swt. Berfirman “Dan janganlah kalian berlebihan”. Maksudnya berlebihan dalam makan dan minum. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Aun bin Abi Juhaifah dari ayahnya, dia berkata, “Aku pernah makan tsarid dengan daging yang penuh lemak, lalu aku datang kepada Nabi, sedang aku benar kekenyangan. Maka Nabi berkata, “Hentikan mengisi perutmu wahai Abu Juhaifah, karena sesungguhnya orang yang paling kenyang di dunia, akan menjadi orang yang paling lama merasa lapar di akhirat”.

Setelah kejadian itu Abu Juhaifah tidak pernah mengisi perutnya sampai penuh hingga ajal menjemputnya. Jika dia sudah makan siang, maka dia tidak lagi makan malam. Nabi saw telah menjelaskan tentang batasan berlebihan melalui sabda beliau: “Termasuk berlebihan adalah ketika kamu memakan apa saja yang menggugah selera”.

Luqman pernah berpesan kepada anaknya “Wahai anakku, janganlah kalian makan terlalu kenyang. Jika engkau memberikan makanan itu untuk anjing, maka yang demikian itu lebih baik daripada engkau terus memakannya”.

Sumber: Buku “Pola Makan Rasulullah” oleh Prof. Dr. Abdul Basith Muhammad as-Sayyid

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: