HarySoemarwoto’s Weblog

Pemikiran Seorang Anak Bangsa

Haji Sesuai Sunnah Nabi Muhammad Saw.

Posted by harysoemarwoto on May 23, 2008

Haji, salah satu rukun Islam yang harus ditunaikan oleh muslim yang mampu sekali seumur hidupnya. Sebelum melaksanakn haji ke baitullah di Mekah sudah selayaknya kita berbekal diri baik harta, kesehatan jasmaniah dan rohaniyah sehingga ibadahnya mabrur/diterima oleh Allah SWT. Untuk itu, kita wajib mengikuti sunnah yang dicontohkan Nabi Muhammad saw. yang umum dikenal dengan  sebutan MANASIK HAJI.

Karena ini menyangkut konteks ibadah mahdoh (tertentu aturannya) maka tidak ada alsaan untuk tidak mengikutinya. Sebagai gambaran detail apabila saudara-saudaraku hendak menunaikan haji sebaiknya ikut KBIH/Kelompok Bimbingan Haji tertentu yang berkhidmat pada sunnah, salah satunya yang pernah saya ikuti adalah KBIH JOHAR di Jl Johar Baru I No. 22 jakarta Pusat Tlp 021-4249111. (maaf bukan promosi lho !)

Jemaah calon haji yang telah melunasi ONH dan siap diberangkatkan akan dikelompokkan dalam kloter-kloter (kelompok terbang) dari embarkasi yang telah ditentukan. Mengingat jumlah jemaah calhaj kita terbesar (210 ribuan orang) maka Depag mengatur menjadi 2 gelombang. Gelombang keberangkatan ke-1 berangkat dari tanah air ke Madinah (ada yang langsung ke madinah, ada juga yang ke Jeddah lalu ke Madinah- menginap 9 hari di Madinah– lalu ke Mekah), sedangkan gelombang ke-2 berangkat dari tanah air ke Jeddah lalu ke Mekkah).

Rangkaian perjalanan & kegiatan Ibadah Haji Tammatu : Gelombang ke-1 (Pakain Searagam Jemaah Haji Indonesia warna abu-abu dari depag – – belum pekaian ihram –)meliputi : Singgah di Asrama Haji tanah air 1 malam (menerima pasport, gelang dan living cost) , keesokan harinya meuju bandara, menunggu pemeriksaan dokumen, barang bawaan/koper sekitar 4 jam (patuhi peraturan tentang barang bawaan demi keselamatan bersama) , terbang ke Jeddah (embarkasi tertentu ada yang langsung ke Madinah) selama 9-10 jam, tiba di Bandara King A.Azis Jeddah biasanya menunggu pemeriksaan barang sekitar 4 jam, lalu menuju Madinah naik bus AC selama 10-12 jam jarak sekitar 450km. Perlu banyak dzikir, sabar dan saling membantu satu sama lainnya. Menginap di Madinah selama 9 hari (kamar pria dan wanita dipisah –jika keluar penginapan wanita harus ditemani muhrimnya/berkelompok), jamaah melakukan kegiatan ibadah harian a.l shalat rawatib & sunnah sesuai kemampuannya (jangan memaksakan harus 40 waktu shalat — mengingat shalat arbain menurut ahli hadits adalah hadits dhaif–, dzikir & beramal shalih lainnya — tetap menjaga kesehatan –, Kegiatan Ziarah di Madinah tidak ada kaitannya dengan ibadah haji, ini sunnah yang kita ikuti untuk mengunjungi Masjid Nabawi. Usahakan untuk ziarah ke Masjid Quba –masjid pertama yang didirikan nabi di madinah-shalat sunnah 2 rekaat di dalamnya karena fadhilah pahalanya sama dengan sekalu umrah (hendaknya wudhu dari pemondokan/hotel dimanan kita tinggal). Jangan berdesak-desakan shalat di Raudhah Syarifah (tempat antara mimbar rasulullah dan rumah beliu) kondisi saat ini ditandai dengan karpet motif hijau. Bagi yang ingin ziarah ( wanita dilarang ziarah ke kubur) ke Kubur Rasululullah hendaknya hanya melakukan sesuai tuntutan yaitu salam kepada rasulullah lalu berdoa kepada Allah agar Allah menerima dan mengampuni Nabi Muhammad, kemudian salam kepada Abu Bakar ra. & Umar r.a dan mendoakan mudah-mudahan Allah menerima dan mengampuni doa keduanya. Kunjungan ke tempat-tempat bersejarah lainnya hanya merupakan ziarah biasa yang tidak wajib diikuti.

Kemudian menuju Mekkah naik bus AC untuk melaksanakan ibadah Umrah & Haji. Setibanya di Bir Ali sekitar 1 jam perjalanan setelah kota Medinah, semua calon jemaah haji Mandi Besar, memakai wangi-wangian, memakai pakain ihram dan ihlal umrah (Labbaik ALlahumma ‘Umratan) –ini awal kegiatan umrah & berlaku semua larangan selama pakaian umrah–, talbiah sepanjang perjalanan hingga sampai di Hajar Aswad. Tiba di Mekkah, kita akan menempati maktab-maktab yang telah ditentukan (pria dan wanita dipisah–jika keluar maktab, wanita harus ditemani muhrimnya/berkelompok). Semua jamaah masih mengenakan pakain ihram. Setelah istirahat cukup, kita bersama rombongan akan menuju Masjidil Haram untuk melakukan thawaf qudum, Sa’i dan Potong/cukur rambut (Tahalul) biasanya dilakukan setalah shalat ‘Isya agar waktunya cukup dan tidak panas. Setibanya di Masjidil haram kita usahakan masuk melaluipintu As-salam (Babussalam) –tahun lalu masih ditutup karena perbaikan –sambil talbiah, begitu melihat Ka’bah kita berdoa tidak mengangkat tangan, langsung menuju Rukun Hajar Aswad (sudut hajar aswad searah dengan lampu hijau yang ada di sudut bangunan masjid), memulai thawaf 7x putaran, shalat 2 rekaat didekat Makam (bekas telapak kaki –bukan kuburan) Ibrahim, mengakhiri thawaf di Rukun Hajar Aswad. Menuju Bukit Shafa, menghadap ke arah ka’bah, berdoa sambil mengangkat kedua tangan setinggi-tingginya (doa diulang 3x) lalu turun berjalan menuju Bukit Marwa — bagi pria saat sampai tanda/pal lampu hijau hendaknya larai-lari kecil, wanita jalan biasa–lalu jalan biasa naik sampai ke Bukit Marwa, menghadap ke arah ka’bah, berdoa sambil mengangkat kedua tangan setinggi-tingginya (doa diulang 3x). Ini dihitung 1 X perjalanan sa’i. Lakukan kegiatan ibadah sa’i sampai 7 X dan berakhir di Bukit Marwa. Kemudian kita potong rambut (memotong beberapa helai rambuat) sebagai tanda thalulul. Dengan demikian ibadah umrah selesai, dan gugurlah semua larangan selama pakaian ihram, selanjutnya kita kembali ke maktab, istirahat secukupnya, mengenakan pakaian biasa yang menutup aurat–wanita tetap berjilbab/pria jangan mengenakan celana pendek–, melakukan kegiatan ibadah harian (shalat bisa dijamak & qashar), menunggu sampai tgl 8 Dzulhijjah untuk berhaji.

Gelombang ke-2 berangkat dari tanah air menuju Jeddah. Calon jama’ah haji mengingap 1 malam di Asrama haji (menerima pasport, gelang dan living cost). Keesokan harinya siap ke bandara dan terbang ke Jeddah. Calon jama’ah haji mandi besar di asrama haji (pakain ihram jemaah pria disimpan di hand bag/tas jinjing yang akan dibawa masuk kabin pesawat terbang), memakai wangi-wangian, jemaah wanita mengenakan pakaian ihram dan jas/jaket seragam depag -warna abu-abu-, jema’ah pria mengenakan seragam haji dari depag, naik bus AC menuju bandara. Menunggu pemeriksaan dokumen & barang bawaan/koper sekitar 4 jam (patuhi peraturan tentang barang bawaan untuk keselamatan bersama). Sejam sebelum boarding, jamaah pria akan mengenakan pakain ihram bagian bawah (bagian atas masuk hand bag) dan jaket/jas seragam depag. Ini penting demi keselamatan penerbangan karena kalau semua jamaah pria sekitar 50% nya jumlah orang per kloter (500-an orang) berdiri maka akan mengganggu kestabilan pesawat, bisa miring/oleng & bisa celaka. Laluboarding ke pesawat & terbang menuju Bandara King A/Azis di Jeddah selama 9-10 jam. Dua jam sebelum mendarat, semua jamaah pria mengenakan pakain ihram bagian atas (& melepas semua pakaian lain). Sekitar 20-an menit sebelum mendarat, Pilot/Ketua Kloter akan mengumumkan bahwa kita akan melintasi miqat -Qarnul Manazil-, dan semua jamaah segera Ihalal umrah (Labbaik Allahumma ‘Umratan), terus talbiah sampai tiba di Rukun Hajar Aswad. Memperbanyak dzikir, doa, sabar dan saling tolong menolong. Agar diperhatikan bahwa bandara King A.Azis itu bukan miqat, maka kita jangan ikut-ikutan memulai umrah dari sini. Semua orang yang hendak umrah harus memulai ihramnya dari miqat yang telah ditentukan (bagi jamaah Indonesia miqatnya Qarbul Manazil — sekitar 20-an menit perjalanan sebelum kita mendarat & masih diatas peswat udara). Tiba di bandara King A.Azis, pemeriksaan dokumen dan barang bawaan sekitar 4 jam. Tetap bertalbiah, dzikir, doa, sabar dan saling tolong menolong. Menuju Mekkah dengan bus AC sekitar 3-4 jam, Tiba di maktab, menempati kamar yang telah ditentukan (pria dan wanita dipisah –jika keluar, wanita harus didampingi muhrimnya/berkelompok). Semua jamaah masih mengenakan pakain ihram. Setelah istirahat cukup, kita bersama rombongan akan menuju Masjidil Haram untuk melakukan thawaf qudum, Sa’i dan Potong/cukur rambut (Tahalul) biasanya dilakukan setalah shalat ‘Isya agar waktunya cukup dan tidak panas.  Rombongan dibantu oleh Hj.Nur – istri H.Abdul Rauf sebagai penunjuk jalan. Setibanya di Masjidil haram kita usahakan masuk melaluipintu As-salam (Babussalam) –tahun lalu masih ditutup karena perbaikan –sambil talbiah, begitu melihat Ka’bah kita berdoa tidak mengangkat tangan, langsung menuju Rukun Hajar Aswad (sudut hajar aswad searah dengan lampu hijau yang ada di sudut bangunan masjid), memulai thawaf 7x putaran, shalat 2 rekaat didekat Makam (bekas telapak kaki –bukan kuburan) Ibrahim, mengakhiri thawaf di Rukun Hajar Aswad. Menuju Bukit Shafa, menghadap ke arah ka’bah, berdoa sambil mengangkat kedua tangan setinggi-tingginya (doa diulang 3x) lalu turun berjalan menuju Bukit Marwa — bagi pria saat sampai tanda/pal lampu hijau hendaknya larai-lari kecil, wanita jalan biasa–lalu jalan biasa naik sampai ke Bukit Marwa, menghadap ke arah ka’bah, berdoa sambil mengangkat kedua tangan setinggi-tingginya (doa diulang 3x). Ini dihitung 1 X perjalanan sa’i. Lakukan kegiatan ibadah sa’i sampai 7 X dan berakhir di Bukit Marwa. Kemudian kita potong rambut (memotong beberapa helai rambuat) sebagai tanda thalulul. Dengan demikian ibadah umrah selesai, dan gugurlah semua larangan selama pakaian ihram, selanjutnya kita kembali ke maktab, istirahat secukupnya, mengenakan pakaian biasa yang menutup aurat–wanita tetap berjilbab/pria jangan mengenakan celana pendek–, melakukan kegiatan ibadah harian (shalat bisa dijamak & qashar), menunggu sampai tgl 8 Dzulhijjah untuk berhaji.

Setelah ada pengumuman resmi dari Pemerintah Arab Saudi mengenai waktu Wukuf di Arafah, maka pada hari tarwiyah/8 Dzulhijjah pagi kita akan menuju Mina (ini sesuai sunnah, tetapi hanya dilakukan oleh kelompok kecil jamaah Indonesia yang tergabung dalam KBIH tertentu — misal KBIH JOHAR yang pernah saya ikuti–), sedangkan jemaah Depag pada siang hari tarwiyah menuju Arafah dan bermalam di Arafah 1 malam.  Kegiatan di maktab pada hari tarwiyah, semua jama’ah mandi besar, memakai wangi-wangian, mengenakan pakaian ihram. Lalu keluar naik bus AC (yang khusus disewa oleh KBIH Johar memisahkan diri/tanazul dari depag), ihlal haji (Labbaik Allahuma Hajjan) didalam bus, bertalbiyah sampai ke Jumrah ‘Aqabah. Jarak dari Mekkah ke Mina sekitar 7 km. Setelah tiba di Mina, jamaah akan menempati tenda-tenda sesuai Muassasah yang mengurusi saat di Mekkah. Kita akan mabit semalam di Mina, dengan kegiatannya adalah shlalat, dzikir, berdoa dan istirahat. Shalat rawatib lebih utama dijamak & qashar. Pada tgl 9 Dzulhijjah pagi semua jamaah yag ada di Mina akan berangkat ke Arafah naik bus AC taradudi (shuttle bus) yang disediakan muassasah. Jarak antara MIna ke Arafah sekitar 18 km. Tiba di Arah menempati tenda untuk wukuf sesuai maktab masing-masing. Waktu wukuf dimulai setelah shalat dzuhur sampai maghrib. Kegiatan wukuf akan diawali dengan khutbah wukuf dan dilanjutkan doa & dzikir masing-masing. Disini tempat & waktu yang makbul semua doa dikabulkan oleh Allah Yang Maha Kuasa. Maka hendalkah gunakan waktu sebaik-baiknya dan jangan disia-siakan, jika hendak istirahat sebaiknya pada waktu datang hingga waktu sebelum dzuhur. Sebelum maghrib kita berkemas dan siap-siap menuju Muzdalifah yang berjarak sekitar 8-9 km. Walau jaraknya relatif pendek, namun akan terjadi kemacetan yang luar biasa mengingat yang hadir hampir 2,5 juta orang Islam. Disini, masing-masing orang perlu bersabar, berdzikir, tolong menolong sambil tetap mengumandangkan talbiyah (Labbaik Allahumma Labbaik dst.).

KBIH Johar keluar arena tenda sekitar 1/2 jam sebelum maghrib menuju jalan raya dimana Bus yang disewa (namanya bus Al-Fathoni, dengan driver Faisal) telah siap menjemput jamaah. Sementara itu jamaah lain bersiap di pinggir jalan disekitar arena tenda menunggu bus taradudi/shuttle bus. Tepat waktu maghrib, adzan mengumandang jemaah diizinkan keluar Arafah menuju Muzdalifah. Saat itu, driver bus Al-Fathoni (FAISAL) mengambil jalan pintas langsung menuju Mekkah lalu masuk dari arah Mina menuju Muzdalifah (alhamdulillah perjalanan sekitar 2,5 jam–sementara jamaah lain ada yang sampai di Muzdalifah menjelang pagi karena jalanan sangat macet). Setelah tiba di Muzdalifah, jemaah menggelar tikar masing-masing disekitar perbukitan/lembah/pinggir jalan raya, lalu mengerjakan shalat Maghrib dan ‘Isya (jamak & Qashar), makan makan dan istirahat. Ada sebagian jamaah yang mengambil batu untuk lempar jumrah. Batu kerikil sebenarnya dapat diambil dimana saja. Batu kerikil yang disiapkan berjumlah 49 buah – untuk nafar awal dan 70 buah -untuk nafar akhir dengan rincian penggunaan saat lempar jumrah Aqabah tgl 10 Dzulhijjah=7 bhl, lempar jumrah ula, wustha, aqabah tgl 11 Dzulhijjah= 21 buahl, lempar jumrah ula, wustha, aqabah tgl 12 Dzulhijjah= 21 buah dan lempar jumrah ula, wustha, aqabah tgl 13 Dzulhijjah= 21 batu kerikil) tergantung niat nafar awal (menginap 2 malam di Mina) atau nafar tsani (menginap 3 malam di Mina).

Setelah shalat shubuh di Muzdalifah, jemaah berkemas dan siap-siap menuju Mina. saya bersama rombongan menuju bus al-fathoni dan berangkat menuju Mina via Aziziyah Mekkah (perjalanan sekitar 2 jam) seraya bertalbiyah langsung Lempar jumrah ‘Aqabah. Kemudian tahalul awal dengan memotong rambut. Saat itu, rombongan saya segera menuju Masjidil Haram di Mekkah untuk melaksanakan thawaf ifadhah (bagi yang udzur diantar langsung ke maktab), dan tidak sa’i karena sa’i sudah dilakukan saat umrah. Dengan selesainya thawaf ifadhah maka gugurlah seluruh larangan selama berpakain ihram, termasuk hubungan intim suami-istri. –Tahalul Tsani–. Kemudian rombongan segera kembali ke maktab untuk mandi dan istirahat secukupnya. Jemaah pria bercukur gundhul (ini penting karena Rasulullah akan mendoakan 3 X bagi jemaah yang tahalul dengan cara mencukur habis rambut kepala dan hanya mendoakan 1 x bagi yang hanya memotong rambut sebagian). Pukul 16.00 jamaah berpakian biasa (wanita berjilbab) menuju Mina untuk mabit dan melempar ketiga umrah pada tgl 11,12, dan 13 Dzulhijjah. Pada tgl 11 Dzulhijjah pagi saya bersama Ust.Amin, Sunardi dan Amril dan beberapa teman jamaah masjid Istiqamah Bandung mewakili rombongan pergi ke daerah diluar Mina untuk menyaksikan pemotongan hewan Qurban berupa unta dengan dibantu oleh H.Abdul Rauf – asal dari Madura yang telah menetap di Mekkah. Setelah itu, saat ba’dha jawal (setelah matahari tergelincir – ini waktu afdhal untuk melempar) kami menuju tempat pelemparan jumrah Ula, Wustha dan Aqabah dan kembali ke tenda/kemah di Mina. Bagi yang berhalangan dapat diwakilkan kepada orang lain. Orang yang mewakili harus melempar jumrah untuk dirinya sendiri, baru melempar untuk orang yang diwakili. Kegiatan selama mabit di Mina adalah melempar ketiga jumrah pada waktu ba’dha jawal, diikuti malam harinya istirahat. Pada tgl 12 Dzulhijjah jemaah melempar ketiga jumrah. Bagi yang nafar awal maka harus meninggalkan Mina sebelum matahari terbenam, bagi jamaah yang nafar tsani masih menginap semalam lagi, kemudian tgl 13 Dzulhijjah melempar ketiga jumrah pada waktu ba’dha jawal, lalu meninggalkan MIna menuju Mekkah.

Sehubungan dengan rombongan saya mengambil nafar awal maka setelah melempar ketiga jumrah, kembali ke tenda dan bersiap untuk meninggalkan Mina sebelum matahari tenggelam menuju Mekkah. Tiba di maktab/pemondokan di Mekkah sekitar jam 18.30. Hari-hari di Mekkah setelah menunaikan seluruh kegiatan ibadah rangkaian haji adalah shalat rawatib, shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, dzikir, doa dan ada sebagian yang i’tikaf di masjidili haram. Disamping itu diwaktu senggang sambil pulang dari masjidili haram melihat-lihat barang-barang bawaan untuk oleh-oleh keluarga, termasuk beli makanan (di Mekkah, jemaah makan sendiri artinya bisa beli di restoran, penjaja makan kaki 5, ada yang masak sendiri — ya suka-suka !) Oh ya disana pun ada Bakso Si Doel (5 real/mangkok), ada restoran Banten, ada Restoran Padang, Restoran madura, dan banyak para TKW yang mendadak menjadi penjual makan. Sepanjang jalan menuju maktab (waktu itu saya dan kloter 36 JKG tinggal di Maktab 63 Bahudmah sekitar 4 km dari Masjidil haram) pun begitu suasanaya. Dan yang orang Indonesia sangat kenali adalah “Pasar Seng” yang dekat pintu keluar Masjidil Haram arah ke Masjid Kucing daerah Ma’la. Oh ya, bagi saudaraku yang hendak haji jangan coba-coba menanyakan orang-orang Arab dimana letak Pasar Seng – dijamin tidak tahu–, jadi bertanyalah dengan jemaah Indonesia/ustadz pembimbing/petugas kloter saja. Pasar Seng itu semacam pertokoan yang menjaul bebagai keperluan, termasuk penjaja Kaki5; disekitarnya ada penginapan, hotel, rumah tinggal ; kalu di negeri kita  ya seperti Pasar Tanah Abang Jakarta. Bagi yang hendak belanja oleh-oleh, ini ada pengalaman teman saya bahwa belanjaan mereka dikirim dengan paket ke Indonesia (biasanya setelah kegiatan haji selesai -banyak petugas expedisi yang datang ke maktab) , ada juga yang mengganti isi kopernya (max 35 kg) dengan barang belanjaan (pakaian yang dia bawa hanya disiapkan beberapa potong untuk ganti & lainnya ditinggal). Hati-hati jangan sampai membawa air zam-zam/barang pecah belah  didalam koper, sangat membahayakan keselamatan penerbangan.

Pada hari yang ditentukan sesuai jadwal kloter masing-masing, para jemaah haji gelombang ke-1 akan menuju Jeddah (bermalam di Madinatul Hujjad 1 malam) dan keesokkan hanri terbang kembali ke Tanah Air. Bagi jemaag gelombang ke-2 bersiap menuju Madinah untuk ziarah ke masjid nabawi, jemaah akan berada disana selama 9 hari. Waktu itu suhu udara di madinah mencapai 4 derajat Celcius – dingin sekali. Kegiatan di Madinah sudah saya sampaikan diatas. Pada hari ke-10, jemaah haji Indonesia ada yang siap kembali ke tanah air melalui Bandara Madinah, dan pada umumnya kembali melalui bandara King A.Azis di Jeddah. Perjalanan dari Medinah ke Jeddah sekitar 6-7 jam, lalu bermalam sehari di Madinatul Hujjad, dan keesokan harinya terbang menuju tanah air. Allahumma hajjan Mabruura. Semoga menjadi Haji Mabrur.

 

 

 

2 Responses to “Haji Sesuai Sunnah Nabi Muhammad Saw.”

  1. Sadeko said

    Mas Har,
    boleh tuh dimunculin lagi resep masakan yang lain…hehehe

    btw, bisa gak dimunculin list seluruh judul2 artikel di blognya, biar gampang kl kita mau pilih artikel.

    Ws,

  2. yusroni said

    Ok sekali catatan perjalanan HAJI diatas yg ditilis Pak Hary Soemarwoto …. bagi yg mau Haji perlu baca secara cermat. saya sehabis baca jadi ingin keluar air mata karena membayangkan bagaimana nikmatnya berhaji. salam untuk muslimin muslimat Indonesia dan seluruh Dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: