HarySoemarwoto’s Weblog

Pemikiran Seorang Anak Bangsa

Archive for the ‘Economy’ Category

RP 6 M BIAYAI ORIENTASI DPR BARU 2009

Posted by harysoemarwoto on August 22, 2009

Wow….mencengangkan, Orientasi DPR Baru telan uang rakyat Rp 6 M. !! Walau hingga KPU belum tetapkan Anggota DPR terpilih, mengingat masih banyak permasalahan yang belum tuntas, seperti pemilu ulang di beberapa dapil maupun gonjang-ganjing keputusan hukum yang simpang siur saling serobot antara MA dan MK, tetapi rakyat sudah bisa mengendus pemborosan uang Rp 6 M hanya untuk masa orientasi. Emangnya dia akan sekolah yang baru masuk tahun ajaran baru. Ini jelas membodohi rakyat.

Mestinya mereka sudah ready for work karena sudah dipersiapkan sebelumnya oleh parpol. Kader parpol atau siapa orangnya yang dijagokan sebagai caleg sudah sewajarnya berbekal diri (atau dibelaki) dengan job description yang akan diemban. Mereka yang terpilih mestinya begitu dilantik, sudah harus bekerja maksimal tidak “clingak-clinguk” karena tidak mengerti tugas-tugasnya. Inilah kegagalan parpol, baik parpol besar apalagi yang parpol kecil.Uang rakyat Rp 6 M tidak tepat untuk biayai orientasi anggota DPR baru, ini hak rakyat untuk meningkatkan kesejahteraannya (atau minimal disalurkan untuk modal usaha bagi si miskin).

Posted in Economy, Politics, Social | Tagged: , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Caleg, mengenaskan nian nasibmu !!

Posted by harysoemarwoto on April 12, 2009

Pemilu legislatif, pesta demokrasi lima tahun telah dilaksanakan tanggal 9 April 2009 lalu, walau disana-sini masih banyak kekurangan (dan mungkin juga kecurangan) seperti kesemrawutan DPT, logistik, tertukarnya surat suara dan daftar caleg antar dapil, money politic, caleg stress dan bisa saja gila. Ha…, mengenaskan nian nasibmu sang caleg. Makanya, sebelum bertindak harus pikir-pikir dulu seperti yang diingatkan oleh Raja Dangdut Rhoma Irama.

Pasca pileg (pemilihan anggota legislatif, yang meliputi pemilihan anggota DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kab/Kota dan Dewan Perwakilan Daerah) memang menyisakan banyak masalah, terlebih pelaksananan pemilu yang “amburadul” maupun rendahnya kapabiltas KPU (D). Kondisi anomali ini juga tidak lepas dari para politisi senayan sengaja yang mengulur-ulur pembasanan/penetapan UU Pemilu maupun fit and proper test calon anggota KPU, sehingga KPU baru tidak mempunyai cukup waktu mempersiapkan segala hal tentang pemilu, apalagi yang bersangkutan semuanya wajah-wajah baru. Ke depan, saya kira akan lebih baik keanggotaan KPU diisi oleh wajah-wajah lama yang bersih dan bagus (50%) dan wajah-wajah baru (50%). Ingat wilayah kita ini sangat luas dan banyak daerah yang terisolasi dan masih tertinggal, yang tidak mungkin H-3 logistik baru didistribusikan. Sudah pasti, kacau !!. Kondisi ini lebih parah lagi, karena KPU seolah-olah dijadikan “target” dan sebagai sumber kegagalan.

Kemudian di sisi lain, para caleg, terutama nomor jadi sudah bisa tidur nyenyak, tahu-tahu terhentak dan terkejut dari tidurnya karena putusan MK yang menganulir ketentuan nomor urut menjadi suara terbanyak. Appreciate untuk MK yang menghargai suara rakyat. Inilah sumber stres awal para caleg. Mereka dipaksa oleh keadaan yang berubah sangat cepat untuk segera membangun citra, mempublikasikan dirinya untuk lebih dikenal oleh rakyat. Mereka harus mengurus pikiran, waktu, tenaga dan uang untuk menjadikan dirinya “terkenal”, sehingga segala upaya ditempuh termasuk utang dan irnoisnya ada yang “mencuri”. Wah…, belum jadi anggota legislatif saja sudah, mencuri apalagi nanti kalau sudah jadi…, bisa kita bayangkan bagaiman kinerja mereka. Ada pula caleg, yang naik tower telkom, siap terjun tapi toh takut juga ..ha…ha…. Makanya, pikir-pikir dulu, jangan keburu nafsu. Gituuuu, kok repot !!.

Secara ekonomi, memang untuk jadi caleg perlu “dana” yang tidak sedikit, kita dengar ada yang ratus juta bahkan miliaran rupiah. . Sebagai ilustrasi, andai kita akan mensosialisaikan visi, misi dan program dihadapan 1000 orang, sedikitnya Rp 200 juta harus disiapkan untuk memobilisasi mereka, entertain, konsumsi, kaos, transportasi mereka (tidak termasuk money politic). Inilah resiko demokrasi ! . Di negara maju, pada umumnya para calon senator yang masuk gelanggang adalah mereka-meraka yang sudah mampan ekonominya atau yang mempunyai kegiatan sosial yang dikenal masyarakatnya. Sementara itu, di negeri kita banyak caleg yang tidak siap, sehingga akan menimbulkan masalah baru. Salah satu diantaranya adalah gangguan kejiwaan seperti stress bahkan tidak menutup kemungkinan jadi gila. Terbukti memang, sudah ada calon anggota DPR di Solo yang memeriksakan diri ke Rumah Sakit Jiwa dan justru dia sudah booking tempat, tetapi ditolak karena belum dinyatakan “setengah gelo”. Ayo, siapa lagi yang menyusul. Mengenaskan nian nasibmu sang cale!!

Posted in Economy, Politics | Leave a Comment »

Tahukah Anda : Tiap 4 hari, Ada Pilkada ?

Posted by harysoemarwoto on June 10, 2008

Salah satu hasil agenda reformasi 1998 adalah demokratisasi. Demokratisiasi yang dibangun dalam bidang politik satu diantaranya pilkada secara langsung setiap 5 tahunan. Dari data sekarang ada 33 propinsi, 349 kabupaten dan 91 kotamadya, jadi jumlah seluruhnya ada 473 daerah. Mari kita hitung tiap berapa harikah kita mennyelenggarakan pilkada ?

Mekanisme 5 tahunan berarti 5 X 365 hari = 1825 hari, lalu dibagi jumlah daerah 473 maka diketemukan 3, 86 hari (dibulatkan menjadi 4 hari). Artinya tiap 4 hari kita menyelenggarakan pilkada. Ini belum termasuk Read the rest of this entry »

Posted in Economy, Politics, Social | Tagged: , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Fiskal Bolong

Posted by harysoemarwoto on May 18, 2008

DPR RI melansir adanya temuan fiskal bolong hingga Rp 1 triliyun setelah diketahui adanya ketidakjumbuhan antra data orang yang bepergian keluar negeri versi data imigrasi dan data keuangan. Dari data dimaksud 1 juta orang disinyalir telah melakukan trasansi pembayaran Rp 1 juta melalui oknum korup di bandara. Read the rest of this entry »

Posted in Economy | Tagged: , , , , , , | Leave a Comment »